Dulu sewaktu saya kecil, penyanyi cilik Melisa yang melejit lewat lagu Abang Tukang Bakso, begitu melekat di hati. Bahkan kini, 20 tahun telah berlalu, saya masih hafal syair lagu itu di luar kepala. Setelah itu, muncul banyak penyanyi cilik lainnya, seperti Tiga Anak Manis yang melejit lewat lagu Semua Mencium dan masih banyak lagi penyanyi lain yang melejit di era 1980-an itu.
Sedangkan di era 1990-an awal, ada Joshua lewat lagu Diobok-obok, Trio Kwek-kwek, Chikita Meidy, Meisha dan lain-lain. Mereka disusul oleh Sherina, Cindy Cenora dan Tasya. Generasi penyanyi cilik terhenti sampai di situ. Para penyanyi cilik itu kini sudah dewasa dan tentunya menemukan jalannya masing-masing.
Namun sayangnya, tak ada lagi para penyanyi cilik yang muncul. Anak-anak masa kini “dipaksa” akrab dengan lagu-lagu dewasa, yang mayoritas bertemakan cinta dan perselingkuhan. Bukan hanya syair yang ditiru, gaya para grup band dewasa itu pun mereka tiru.
Ketika kemudian muncul bintang cilik, mereka hanya berkecimpung di dunia sinetron, yang sebenarnya begitu membosankan. Sebut saja salah satunya, Baim. Untuk itu, ini tantangan bagi para pencipta lagu anak dan produser. Sudah saatnya memperhatikan pertumbuhan anak-anak yang masih polos dan lugu itu, dengan porsi yang semestinya.
Badriyah Azkia
Baki, Sukoharjo








