Petinggi di negeri ini sedang mendapat ”ujian”, yang amat besar! Mereka merasa dirinya ”tidak bersalah” dan ini manusiawi, demi mempertahankan citra atau martabatnya atau untuk menutupi sepak terjangnya yang mungkin keliru, tapi masih ngotot merasa benar.
Yang jelas kejujuran dan perilaku transparan secara hakiki belum dimiliki oleh petinggi negeri ini, yang katanya mengaku ”beragama”! Masing-masing dari mereka sibuk cari benar dan menangnya sendiri saja, serta menghindar dari jerat2 tindak pidana.
Keterusterangan di media pers, masih basa-basi, atau bisa jadi untuk menutupi kekerdilan jiwa, sebab merasa sudah ”jadi petinggi”, yg selalu minta dilayani secara baik dan optimal ! Apakah jadi petinggi di negeri ini sekedar minta dilayani saja, sementara tidak pernah melihat seberapa jauh ihtiar mereka secara riil dalam memberi peningkatan kesejahteraan wong cilik. Masih layakkah mereka menjadi panutan rakyat ? Masih pantaskah mereka jadi teladan rakyat ?
Sikap jujur perlu jadi prioritas utama untuk digelorakan di lingkup petinggi negeri ini ! Jangan cuma pandai berwacana atau bersilat lidah saja dalam ”menangkis” segala tuduhan publik yang rame saat ini, terutama tentang masalah kasus duit Rp. 6,7 triliun tsb.
Mari berbuat jujur, adil, transparan serta konsekuen atas segala sikap maupun atas segala perbuatan yang telah dilakukannya. Tak perlu banyak omong, yang porsinya dan kepentingannya bukan merupakan kewenangannya. Adakah sikap jujur jadi simbol kebanggaan di negeri ini ? Atau ..........!!?
WISNU WIDJAJA
Jl. Sindoro I No.16 Kalibuntu, Panggung, Tegal







