Demo Bayaran
Beberapa kali setiap hari Minggu, di Ibukota Jakarta, tepatnya di Bundaran HI, digelar sejumlah aksi demo. Dari sejumlah aksi demo yang ada, ada salah satu yang mungkin membuat kita semua mengurut dada. Demo itu dilakukan massa yang menyebut dirinya sebagai pendukung Kapolri. Mereka, antara lain menuntut pembubaran Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Bukan masalah dukungan kepada Kapolri yang memprihatinkan, namun karena demo itu ternyata demo bayaran. Jika pekan lalu seorang peserta demo mengaku dibayar Rp 25.000 oleh pihak tertentu, Minggu (29/11) kemarin ada peserta demo yang mengaku dibayar Rp 100.000. Yang menggelikan, meski mengaku mendukung Kapolri, ternyata para peserta demo itu justru tidak mengetahui nama Kapolri.
Adanya banyak aksi demo itu menurut hemat saya justru semakin memperburuk citra Polisi. Lembaga yang akhir-akhir ini semakin mendapat sorotan karena antara lain kasus kriminalisasi kepada KPK, seakan “membersihkan” citra dirinya, dengan demo-demo bayaran itu.
Namun memang sekali lagi, saat ini uang menjadi penguasa. Siapa berduit, maka dia bisa melakukan apa saja termasuk menyuruh orang-orang melakukan keinginannya. Sungguh disayangkan, jika aksi demo itu benar-benar dilakukan atas perintah lembaga Polri. Bukannya melakukan perbaikan internal, lembaga itu justru melakukan cara-cara yang tidak bagus untuk mendapatkan simpati masyarakat.
Nurhadi
Jalan Sidoluhur, Bareng,
Klaten Tengah






