Satu tahun Pemerintahan SBY-Boediono, namun secara kasat mata dan hakiki belum menampakkan adanya perubahan dalam tataran kehidupan rakyat kecil secara umum. Yang ada hanya pencitraan, wacana, adu argumen, saling bertutur kata lewat artikel, seminar, simposium, sarasehan dll.
Konsep kesejahteraan, sekedar sebagai “penenang hati”, sehingga rakyat merasa di”nyamankan”. Hukum dan keadilan kian jauh dari harapan publik, begitu pula di bidang kesehatan serta layanan publik, masih belum sempurna. Pungli masih tetap ada di mana-mana, apalagi yang berhubungan dengan “public service”.
Di suatu lembaga tertentu ada pencantuman kata-kata bagus dengan papan yang digantung “Say No to Pungli”, tapi realitanya masih tetap berlangsung, anehnya lagi yang memungut pungli justru oknum berseragam coklat-coklat, dengan dalih kurang masuk akal. Negeri ini kian tidak terkendali soal pungli! Termasuk korupsi! Aturannya sih bagus-bagus2, namun ketika dilaksanakan di lapangan, banyak oknum2 yg memanfaatkan celah-celah korupsi demi kantongnya sendiri. Sebenarnya “atasannya” tahu, namun pura2 saj tidak tahu, sebab ia dapat “jatah” juga, sehingga korupsi berjamaah kian merajalela!
Di bidang tata negara, ekonomi, hukum dan keadilan serta hal2 yg terkait dengan hajat hidup masyarakat Indonesia, pemerintah masih belum secara serius mewujudkan dengan nurani bersih.
Meski begitu otokritik bukan berarti ditujukan untuk menjatuhkan pemerintahan yang sah, namun sebagai wujud kepedulian wong cilik terhdap pemerintahannya, sehingga diharapkan ke depan akan terjadi realita dan harapan yang sungguh2 diwujudkan dengan nyata, bukan “dijawab” dengan “manajemen petak umpet” atau manajemen kongkalikong !
WISNU WIDJAJA
Jl. Sindoro I No.16 Kalibuntu, Panggung, Tegal.




