Spanduk Ultah Brimob, sungguh provokatif, “Kami Bangga Jadi Anak Buah Jenderal”. Spanduk Ultah Brimob di Markas Brimob Jakarta pekan lalu mencerminkan ketidakcerdasan dan ketidakpekaan jajaran elite Brimob atas memburuknya citra Polri, akibat ulah segelintir pimpinannya. Hal itu bisa dilogika.
Pertama, elite Brimob dan jajarannya bangga menjadi anak buah rezim Bambang Hendarso Danuri (BHD), yang semasa kepemimpinannya tidak mendatangkan prestasi bagi Polri. Apa yang disebut prestasi menumpas teroris adalah hal yang berlebihan, karena jika penanganan terorisme diserahkan kepada TNI akan lebih cepat dan tidak menunggu 9 tahun.
Kedua, elite Brimob dan jajarannya tidak paham bahwa memburuknya citra Polri akibat ulah pimpinan Polri yakni Susno Duadji (SD) dan BHD yang merekayasa kasus hukum pimpinan lembaga lain. Sementara terhadap makelar kasus semacam Anggodo dan koruptor semacam Anggoro, justru melindungi.
Ketiga, elite Brimob dan jajarannya tidak sadar mereka hidup digaji dari uang rakyat dan para elitenya bisa makmur juga dari upeti rakyat. Seharusnya mereka bangga menjadi anak buah rakyat.
Keempat, elite Brimob dan jajarannya tidak sadar sejarah, bahwa sesungguhnya Polri dan Brimob selama 64 tahun diuntungkan sejarah. Tidak pernah berjuang dalam perang kemerdekaan, menegakkan reformasi dan kini sangat diuntungkan oleh supremasi sipil.
Seharusnya, spanduk di hari Ultah Brimob, diubah menjadi “Kami bangga menjadi anak bangsa dan ingin menjadi anak buah jenderal yang jujur!”
Nurul Himawan
Mahasiswa Sosiologi UNS
Jl Ir Sutami 36 A Kentingan, Solo. 57126







