Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Yatim Piatu Dirantai Besi Sakit Jiwa Itu Menular dari Kembarannya

Jumat, 12/03/2010 09:00 WIB - Ario Bhawono

Lelaki itu terlihat kokoh, namun ia hanya terduduk di dekat tiang kayu di belakang rumah. Ia tak bisa pergi ke mana-mana karena kaki kanannya dibelit rantai besi. Tak ada tikar, yang ada hanya permukaan tanah, yang sekelilingnya comberan.
Dialah Taslim (36), warga Dukuh Tegalmulyo, Desa Guli, Kecamatan Nogosari, Boyolali. Sudah sekitar dua tahun lebih hidupnya dalam pasungan, karena sakit jiwa. Warga takut kalau dia mengamuk saat kambuh, karenanya kaki kanannya diikat.
Meskipun terlihat sehat, namun selama dua tahun terakhir ini dia tinggal di rumah bagian belakang yang sudah rusak. Sebagian besar dinding rumah sudah bolong dan genteng atap sebagian besar sudah rusak. Sehingga saat hujan turun, lelaki yang sudah ditinggal mati ayah ibunya itu basah kuyup.
Kakak kandung korban, Ngatmin (39) menuturkan, Taslim merupakan anak kembar dengan Muslim. Awalnya hanya Muslim yang sakit jiwa, namun setahun kemudian menular pada Taslim. Peristiwa itu terjadi sekitar lima tahun lalu. ”Sekarang Muslim pergi tak tahu ke mana, tinggal Taslim,” tutur Ngatmin, Kamis (12/3).
Sebenarnya keluarga sudah berupaya maksimal untuk mengobati Taslim. Namun sejak kematian sang ayah dua tahunan lalu, keluarga sudah kehabisan uang untuk biaya berobat. Apalagi biaya berobat sangat mahal, mencapai hampir Rp 1 juta. ”Untuk biaya dokternya saja Rp 100.000, ditambah biaya obat sekitar Rp 800.000, belum transportasinya, sekarang ini keluarga sudah keteteran,” papar Ngatmin.
Sebenarnya Taslim pernah dirawat di panti selama dua tahunan di bawah pengawasan dokter Ibrahim. Saat itu Taslim sudah menunjukkan hasil baik. Namun selang beberapa waktu kumat lagi dan berobat jalan ke RSJ Surakarta sekitar dua tahunan pula.
Komunikasi
Tetapi setelah sang ayah meninggal menyusul ibunya meninggal, keluarga sudah angkat tangan soal biaya karena tidak mampu. Sebenarnya Taslim masih dapat diajak komunikasi secara verbal. Namun keluarga terpaksa mengikatnya dengan rantai besi. Sebab dia pernah mengamuk dan membuat warga takut, sehingga demi keamanan Taslim akhirnya diikat rantai.
Ngatmin mengaku sudah berkali-kali memperbaiki rumahnya, namun selalu dirusak sendiri oleh Taslim. Bahkan genteng atap pun banyak yang rusak karena dilempari. Meski begitu, Taslim masih makan tiga kali sehari.
Turmudi (45), tokoh masyarakat setempat yang juga mantan guru sekolah Taslim mengaku prihatin dengan kondisi mantan muridnya itu. Diakui, pihak keluarga sudah berupaya maksimal namun terbatas biaya. (Ario Bhawono)
 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :