Konstruksi dan elemen yang ramah lingkungan menjadi ciri gaya desain rumah alam. Sesuai namanya, gaya hunian ini memang mengedepankan konsep back to nature. Rumah back to nature biasanya memiliki elemen dan komponen pendukung yang merepresentasikan gaya alamiah itu sendiri, misalnya kayu, bambu, batu kali, batu bata.
Arsitek Hanah Indrawati mengatakan, "Rumah yang memiliki konsep back to nature biasanya tidak memiliki warna-warna yang terlalu beragam. Itu karena mereka tidak menggunakan cat."
Rumah alam pada umumnya tidak memiliki dinding beton dengan lapisan semen halus yang ditutupi cat beraneka warna layaknya rumah modern. Justru yang unik, biasanya rumah berkonsep back to nature memiliki dinding dari batu-batu kali, batu alam yang besar-besar, kayu, bambu, sampai batu bata yang tidak dilapisi semen sehingga warna merah oranye dinding berasal dari warna asli batu bata.
"Hal lain yang membuat rumah back to nature menjadi unik adalah elemen-elemen yang digunakan untuk dinding bisa dipakai juga pada lantai dan sebaliknya," kata Hanah.
"Batu kali atau batu gunung yang besar-besar sangat indah dijadikan konstruksi dasar dinding, tapi juga bisa menambah kecantikan lantai rumah. Penggunaan batu untuk konstruksi lantai membuat kita serasa ada di pedesaan. Begitu pula dengan kayu. Kayu cocok digunakan sebagai lantai, yang sering kita sebut lantai parket," tambah Hanah.
Ada beberapa persamaan rumah back to nature dengan rumah modern. Kita pasti sering melihat rumah modern memiliki hiasan kolam kecil atau water fountain. Nah, elemen aquatic itu adalah salah satu poin penting pada rumah back to nature.
"Back to nature itu artinya kembali ke alam. Dari segi fengsui, alam memiliki beberapa elemen seperti api, tanah, udara, dan air. Kolam atau water fountain inilah yang melengkapi elemen air tersebut," terang Hanah.
Jika Anda ingin mendapatkan suasana adem dan cozy, rumah alam adalah gaya rumah yang tepat. Sepanas apa pun sinar matahari, di dalam rumah back to nature rasanya masih agak dingin, apalagi jika dinding rumah terbuat dari batu kali. "Itu karena batu kali tidak terlalu mengantarkan panas sinar matahari ke dalam rumah, seperti dinding beton semen," ujar Hanah. (oke)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




