Kain batik memang sudah menjadi bagian dari budaya dan selalu diincar keberadaannya oleh para wisatawan. Tetapi untuk tahun ini terjadi tren menarik berkaitan dengan batik. Penjualan lembaran kain batik mengalami penurunan, tetapi yang lebih digandrungi adalah wisata edukasi batik.
Hal ini terlihat dari pemandangan di sentra batik di Solo, kampung batik Kauman dan Laweyan saat liburan akhir tahun ini. Tak hanya wisatawan lokal, namun turis asing tak segan menyambanginya, untuk sekadar menikmati suasana kampung batik sekaligus melihat proses membatik.
Menurut Alpha Fabela Priyatmono, Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan, selalu berinovasi untuk memperkaya produk batik di Laweyan adalah salah satu cara untuk membangkitkan gairah wisata kreatif. Sehingga batik bisa menjadi salah satu lahan dari industri kreatif yang terus berkembang.
“Bagaimana industri batik ini bisa berkembang salah satu caranya adalah menjadikan sentra batik menjadi industri kreatif sekaligus wisata kreatif. Kedua hal ini tidak bisa dipisahkan,” papar Alpha kepada Joglosemar.
Alpha merinci, ciri-ciri tempat wisata kreatif adalah memberdayakan kreativitas masyarakat lokal, tidak terbelenggu dengan permintaan pasar, wisatawan bisa menyatu dengan budaya lokal setempat, dan selalu menggali potensi dari budaya setiap daerah.
“Ini yang sekarang sedang kami munculkan untuk memperkuat dari segi fisik potensi kampung Laweyan. Melalui pemetaan historis menjadikan wisata kampung, wisata pabrik, yang dikemas dengan wisata perjalanan secara otomatis akan mengangkat sisi perekonomian kita,” tuturnya.
Revitalisasi
Menjadikan batik sebagai industri kreatif pun berdampak pada tingkat kunjungan saat liburan akhir tahun ini. “Baru 20 persen kenaikannya, yang tetap stabil adalah wisata edukasinya. Karena masih banyak wisatawan yang berkeinginan untuk belajar dan mengerti proses pembuatan batik,” imbuhnya.
Secara terpisah Pengurus Paguyuban Kampung Wisata Batik Kauman Gunawan Setiawan mengatakan, pada masa liburan akhir tahun ini sentra batik Kauman mengalami penurunan pengunjung. Hal ini berkaitan dengan proses revitalisasi kampung wisata batik Kauman yang telah berjalan selama dua bulan ini.
“Akhir-akhir ini tingkat penjualan mengalami penurunan, karena mengingat akses jalan yang sulit untuk dilalui, lantaran sedang ada revitalisasi. Tapi ini bukanlah permasalahan yang berat, karena masih ada hari-hari lainnya tidak harus bergantung pada hari libur akhir tahun ini. Kami optimis kalau sudah rampung, tempat wisata ini akan bergairah lagi,” paparnya kepada Joglosemar, Selasa (27/12).
Meski mengalami penurunan pengunjung, namun wisata edukasi di kampung batik Kauman mengalami peningkatan. Tempat workshop dan rumah batik tak pernah sepi dari para pengunjung. “Bisa dikatakan masyarakat masih memiliki minat yang tinggi untuk belajar proses pembuatan batik, tak terkecuali para pelajar ataupun para wisatawan asing, “ ucapnya.
Sri Ningsih
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




