Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Waspadai Kaki Diabetes dan Komplikasinya

Jumat, 03/02/2012 06:00 WIB - Triawati Prihatsari Purwanto

Penyakit diabetes mellitus termasuk penyakit yang “merakyat”. Pasalnya, kebanyakan masyarakat telah mengetahui banyak tentang penyakit satu ini. Mulai dari penyebab diabetes mellitus, komplikasinya, serta pengobatan bagi pasien diabetes mellitus. Meski begitu, tidak banyak yang memberi perhatian lebih pada salah satu komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakit yang disebut juga dengan penyakit kencing manis ini. Komplikasi tersebut adalah kaki diabetes. Padahal, hampir setiap pasien diabetes mellitus berkepanjangan tanpa kontrol pasti terkena komplikasi kaki diabetes ini. Tidak jarang pula sampai harus mengamputasi bagian dari kaki yang terkena kaki diabetes.
Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam RS Kasih Ibu Surakarta, dr Ndarumurti Pangesti, SpPD, di sela-sela seminar Update Management Minimal Invasive Surgery and Diabetic Foot, yang diselenggarakan beberapa waktu lalu, definisi kaki diabetik berdasarkan WHO adalah infeksi, ulserasi dan atau destruksi dari jaringan profunda dihubungkan dengan gangguan neurologis dan berbagai derajat penyakit pembuluh darah perifer pada ekstremitas bawah. “Mengapa harus dikatakan sebagai kaki diabetik? Kita ketahui bahwa kaki memiliki 29 persendian, dengan 26 tulang dan 42 otot. Dan selama hidup, kaki berjalan kurang lebih 100.000 mil. Telapak kaki merupakan daerah terluas dengan keratin sehingga mudah “kapalen”. Sehingga telapak kaki yang menebal ini mudah mengalami ulkus atau luka,” ungkapnya.
Pada prinsipnya, pengelolaan kaki diabetes dilakukan berdasarkan lima hal yaitu identifikasi kaki yang berisiko, kemudian periksa dengan teratur kaki berisiko kaki diabetes. Berikan juga edukasi pada pasien, keluarga dan petugas kesehatan tentang hal ini, lalu terapkan pemakaian alas kaki yang sesuai dan atasi kelainan patologisnya selain ulkus. Pada kaki diabetes, keluhan yang sering dirasakan pasien yakni kaki sering merasakan kesemutan, tebal dan terasa kebas dengan ujung jari tipis, sakit senut-senut seperti ditusuk, kram, pegal, telapak kaki panas seperti terkena cabai, dan terasa linu atau ngilu. Pada daerah kaki juga dapat terasa dingin, kaki terasa berat dan besar, atau bahkan kejang.
Pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada kaki diabetes untuk menegakkan diagnosis dapat dilakukan dengan melihat penampilan umum kaki berdasarkan deformitas dan perubahan warna kaki yang tidak normal. Periksa juga bagian kuku yang biasanya tumbuh ke dalam, tebal dan terdapat jamur. Atau bisa juga dari kulit kering pecah-pecah, perabaan hangat, kekuatan otot, dan keterbatasan mobilitas sendi. “Sedangkan masalah tersering yang muncul pada kaki diabetik adalah lepuh atau penebalan dan pengerasan kulit akibat ukuran sepatu yang tidak pas. Lalu adanya mata ikan atau kalus pada telapak kaki, kulit bejah, infeksi jamur di sela jari-jari kaki, infeksi sekitar kuku, dan pertumbuhan kuku ke dalam, serta luka akibat memotong kuku,” imbuh dr Ndarumurti.
Dr Ndarumurti menambahkan, untuk mencegah komplikasi pada kaki diabetik, sebaiknya periksakan kaki setiap hari terhadap luka, lecet atau melepuh. Kemudian bersihkan kaki setiap hari, berikan pelembab pada kulit kering, guntinglah kuku secara lurus dan pakailah alas kaki. Cara pencegahan komplikasi lain yaitu dengan memilih sepatu yang baik, kemudian segera obati luka kecil dan periksakan apakah terdapat tanda-tanda radang. Atau dapat juga dilakukan langkah ke dokter bila kaki mengalami luka dan bukalah sepatu, serta kaos kaki setiap ke dokter, lalu mintalah dokter memeriksanya.
Sementara itu, seorang pasien diabetes mellitus dengan kaki diabetik harus memperhatikan beberapa pantangan yang bahkan jangan sekali-kali untuk dilakukan. Pasalnya, jika tetap dilakukan, bisa saja hal tersebut memperburuk keadaan. Yang pertama yaitu pantang merendam kaki. Lalu pantang menggunakan botol panas atau peralatan listrik untuk memanaskan kaki, pantang menggunakan batu untuk mengurangi kapalan, pantang merokok, serta pantang memakai sepatu dan kaos kaki sempit. Pantang menggunakan obat di pasaran untuk menyembuhkan “mata ikan”, pantang menggunakan silet atau pisau pada kaki, serta pantang menganggap luka pada kaki itu kecil, sekecil apapun luka tersebut merupakan pantangan kaki diabetik lainnya.
Di sisi lain, dr Ndarumurti mengimbuhkan, kaki berisiko kaki diabetik adalah kaki yang memiliki faktor risiko berikut. Yang pertama adalah dengan adanya deformitas atau penonjolan tulang, lalu kulit tidak utuh atau ulkus, neuropati, penekanan abnormal atau kalus, adanya gerak sendi yang terganggu, pulsasi, serta penggunaan alas kaki yang tidak sesuai dan adanya riwayat luka atau amputasi.

Triawati Prihatsari Purwanto

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :