Dinding-dinding tembok di Kota Solo tak luput dari corat-coret cat tanpa makna. Jengkel dengan aksi vandalisme itu, sejumlah Ormas pemuda dan Pemkot Solo, menyatakan perang dengan aksi tak terpuji itu.
Guna mewujudkan tekatnya menjaga kebersihan Kota Solo, sejumlah pelajar sekolah menegah, anggota Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Surakarta, perwakilan Putra Putri Solo dan Ormas kepemudaan, sepakat melakukan ikrar bersama, untuk gerakan antivandalisme pada Jumat (30/10).
Dalam ikrar yang dibacakan Febrind Chandikya, Ketua PPI Surakarta, mereka berjanji untuk ikut bersama-sama menjaga kota agar selalu bersih, sehat, dan indah.
Ikrar yang dilakukan di gerbang depan Stadion Manahan tersebut, juga disaksikan jajaran SKPD (Satuan Kerja Perangkat Daerah, red) dari Satpol serta DKP (Dinas Kebersihan dan Pertamanan, red) Pemkot Surakarta.
Pada kegiatan ini, mereka juga meminta kepada Pemerintah Kota untuk memfasilitasi para pehobi mural dan grafiti dalam menyalurkan kreativitasnya. Karena selama ini, masyarakat maupun aparat, cenderung menyamakan antara grafiti dan mural dengan vandalisme.
“Kami mendukung upaya pemerintah dalam pemberantasan vandalisme. Namun, jangan sampai menghentikan kreativitas kami. Karena vandalisme itu sangat berbeda dengan mural atau grafiti,” ungkap Febrin.
Tempat Khusus
Setelah pembacaan ikrar, dilanjutkan dengan membersihkan coretan-coretan yang melekat pada fasilitas umum di sekitar Stadion Manahan. Seperti yang dilakukan Ardi (12), siswa kelas 1 SMP Regina Pacis. Bersama dengan beberapa temannya, ia mengecat kursi taman yang sudah penuh dengan coretan. Masing-masing dari mereka memegang kuas cat yang telah dipersiapkan.
“Kalau sudah tidak boleh corat-coret lagi, kami ingin ada tempat khusus untuk grafiti,” ujar Ananda (15), yang mengaku sebelumnya senang mencorat-coret di tempat umum.
Sementara di Kepatihan Wetan, aksi perang terhadap vandalisme juga dilakukan oleh petugas Linmas dan pejabat kelurahan. Mereka sibuk mengecat tembok di sepanjang Jalan Sangihe, Kepatihan Wetan. Tak hanya itu, mereka juga terlihat menenteng sebuah ember cat lengkap dengan kuasnya.
Tidak hanya petugas Linmas dan pejabat kelurahan saja yang menggencarkan serangan ini. Para murid dan guru SMK Negeri 8 Surakarta juga tak mau ketinggalan untuk melakukan perlawanan terhadap kaum vandalis yang didominasi oleh anak muda. Para murid dan guru tersebut juga melakukan aksinya dengan menutupi coret-coretan dinding yang mengelilingi sekolah mereka.
“Sekolah kita akan terus melakukan kegiatan ini secara rutin dalam sebulan, agar lingkungan sekolah menjadi bersih dan nyaman. Sehingga dapat menunjang proses belajar dan mengajar,” papar Agus Wiranto, Staf Kesiswaan SMK Negeri 8 Surakarta.
Di lain tempat, Kasi Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan Kepatihan Wetan, Parjiman kepada Joglosemar menjelaskan, bahwa petugas Linmas akan terus melakukan pengawasan secara intensif terhadap lingkungan Kepatihan Wetan dan sekitarnya. “Bagi mereka yang tertangkap basah akan dihukum mengecat kembali seperti keadaan semula,” tegasnya. (Risma Hasnawaty/Arifin)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







