BOYOLALI—Tradisi ritual Buka Luwur (penggantian kain penutup makam) makam Syech Maulana Maghribi atau Ki Ageng Pantaran di Desa Candisari, Kecamatan Ampel, Jumat (23/12) kemarin dipadati ribuan pengunjung, baik dari Boyolali maupun dari luar daerah.
Ritual Buka Luwur merupakan tradisi turun-temurun warga lereng Gunung Merbabu yang masih lestari sampai saat ini. Rata-rata pengunjung yang datang bermaksud ngalap berkah, salah satunya agar dimudahkan rezekinya, atau dipermudah kenaikan jabatannya.
Bahkan, pengunjung sudah mulai berdatangan beberapa hari sebelum hari H. Tradisi penggantian kain penutup makam itu digelar menjelang akhir Bulan Sura. “Mintanya supaya diperlancar rezekinya, panennya banyak dan bebas hama agar bisa mencukupi kebutuhan keluarga,” ujar Suroto (59), warga Desa Bakalan Ampel.
Ritual diawali dengan kirab kain luwur atau lurup makam berikut gunungan tumpeng beserta lauk pauk, serta uba rampe sesaji lainnya. Kirab dilakukan dari rumah juru kunci dengan berjalan kaki ke lokasi pemakaman.
Ratusan warga juga sudah siap di areal pemakaman dengan membawa berbagai tumpeng lengkap dengan lauk pauknya untuk kenduri. Setelah acara pergantian luwur, dilanjutkan tabur bunga, tahlil, kenduri dan doa. Acara diakhiri tradisi ngalap berkah, para pengunjung pun serentak berebut takir sesaji maupun potongan kain luwur makam Ki Ageng Pantaran.
Rutin
Barang-barang itu menurut kepercayaan warga dapat memberikan berkah seperti keselamatan, kesuksesan berdagang, maupun harapan warga lainnya. Hadi Triono (31), warga Macanan, Kecamatan Getasan, Semarang mengaku rutin datang ke ritual Pantaran itu. Selain mendoakan leluhur, dia juga ngalap berkah agar rezekinya lancar.
Seiring tradisi itu, warga menggelar perayaan sadranan. Setiap tamu yang datang selalu disuguhi berbagai macam hidangan. Warga percaya, semakin banyak tamu datang, makin banyak pula rezeki yang bakal diperoleh.
Ritual dibuka oleh Sekda Boyolali Sri Ardiningsih yang mewakili Bupati Seno Samodro. Dia berharap tradisi itu dapat terus lestari, setidaknya di sisi lain dapat menjadi daya tarik wisata yang patut dikembangkan.
Ritual itu sebagai peringatan terhadap Ki Ageng Pantaran, tokoh penyebar agama Islam yang hidup di zaman kerajaan Demak Bintoro.
Ario Bhawono
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




