Terkait program peninggian tanggul Bengawan Solo sepanjang puluhan kilometer di Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo, ternyata menuai protes dari warga. Warga menginginkan pembangunan tanggul itu dihentikan, karena merenggut tanah permukiman yang mereka tempat selama ini.
Sehingga adanya sebuah forum bersama atau mediasi dengan pihak-pihak terkait sangat diperlukan. Namun, rencana mediasi antara Pemerintah Kota Solo, Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS), dan Solidaritas Korban Banjir Bantaran (SKoBB) yang sedianya digelar Selasa, 31 Agustus lalu, ternyata batal dilakukan. Terang saja, batalnya acara mediasi itu sangat mengecewakan warga bantaran, yang selama ini berharap masalah segera selesai.
Warga yang tergabung dalam SKoBB pun menilai bahwa Walikota Solo Joko Widodo (Jokowi) tak konsisten memegang janjinya.
Padahal, mediasi dengan ketiga elemen tersebut sangatlah penting untuk mencari titik temu dari permasalahan yang dihadapi. Lalu dengan ketidakkonsistenan dari stakeholder terkait tersebut, membuat warga yang difasilitasi oleh SKoBB kecewa. Karena ketika sudah dijadwalkan, maka semua warga merelakan tidak bekerja hanya karena supaya bisa mengikuti mediasi. Selain itu, warga juga rela memundurkan setiap acara, agar ketika undangan mediasi itu tiba, mereka bisa menghadirinya. Kuatnya keinginan warga dalam melakukan mediasi, karena warga yang berada di bantaran Sungai Bengawan Solo itu ingin agar permasalahan program peninggian tanggul cepat selesai dan tidak merugikan mereka.
Bahkan, warga pun sangat menunggu momentum penting tersebut yaitu mediasi dengan ketiga belah pihak. Hal tersebut dikarenakan, warga ingin segera menyelesaikan masalah yang saat ini membuat kehidupan mereka resah. Bagaimana tidak resah, jika sejak rencana pembangunan tanggul itu bergulir, maka bayang-bayang relokasi sudah muncul di depan mata.
Supaya warga tak semakin resah, maka harus segera dilakukan upaya penyelesaian dari persoalan tersebut. Jangan sampai warga menunggu lama dan terkatung-katung tanpa kepastian.
Berkaca pada kebijakan relokasi yang dilakukan Jokowi selama ini, mestinya diharapkan relokasi warga bantaran Bengawan Solo juga tidak sampai menimbulkan konflik, apalagi kerusuhan. Duduk bersama antara pihak-pihak yang berkepentingan untuk melakukan musyawarah bersama, tentunya sangat diharapkan. Jangan sampai ada keputusan satu pihak, yang mungkin berpotensi menimbulkan kekecewaan banyak pihak. Kalau bisa damai, mengapa harus ribut? (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







