Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Usia Makin Tua, Justru Dimutasi ke Lereng Merapi

Selasa, 31/08/2010 09:00 WIB - Ario Bhawono

Isak tangis langsung keluar dari bibir Musidah (54), warga Dukuh Sidotopo, Desa Mliwis, Kecamatan Cepogo. Wanita yang sudah puluhan tahun mengabdi sebagai guru itu, terakhir sebagai guru kelas di SDN 2 Cepogo, sejak sepekan lalu tidak bisa tidur nyenyak.
Bahkan lingkaran hitam menghiasi dua matanya yang sudah sayu. Gara-garanya, namanya termasuk dalam daftar mutasi I pemerintahan baru di Boyolali. Saat ini dia merasa “dibuang” ke pelosok, yakni di SD Desa Klakah, Kecamatan Selo, yang berada di lereng Gunung Merapi dan berbatasan dengan wilayah Magelang.
“Saya ini sudah tua dan sakit-sakitan, ya maag juga boyok, tidak tahu dosa kesalahan saya itu apa tiba-tiba dipindah jauh sekali,” tuturnya sambil menangis.
Jelas saja Musidah merasa sangat terpukul, pasalnya tinggal enam tahun lagi dia pensiun, namun di usia yang sudah uzur itu ia harus menempuh jarak yang sangat jauh untuk bertugas. Di sisi lain transportasi ke lokasi yang baru juga belum ada angkutan umum memadai. 
Sementara dirinya, selain sakit-sakitan juga tidak bisa mengendarai sepeda motor. Sehingga sementara ini dirinya terpaksa diantar oleh suaminya, Basri (62), yang merupakan pensiunan pengawas pendidikan agama (PPA) Kecamatan Selo.
“Saya ini sangat mengenal wilayah Selo, Klakah itu sangat jauh sekali, istri saya juga tidak bisa mengendarai sepeda motor karena masih trauma kematian anak bungsu kecelakaan lima tahun lalu,” kata Basri.
Selain perasaan terbuang, baik Musidah maupun suaminya merasa menjadi sosok guru yang paling jelek di Cepogo. Padahal, selama mengabdi menjadi guru, dia merasa belum pernah melanggar aturan. Bahkan pernah diusulkan menjadi kepala sekolah, dia menolak karena merasa belum merasa mampu. Sebaliknya saat ini dia malah dimutasi tanpa tahu alasan yang jelas.
“Sudah saya tanyakan ke kepala sekolah sampai ke dinas tapi tidak ada yang tahu kenapa saya dipindah, Pilkada lalu saya juga netral,” ujar Musidah yang hari ini, Selasa (31/8) tepat berulang tahun ke-54.
Meski begitu, dia mengatakan akan melakoni nasibnya sebagai pendidik. Hanya saja dia berharap ada kebijaksanaan sehingga dalam tiga bulan ke depan bisa bertugas kembali di dekat rumah, mengingat usia dan riwayat kesehatannya.
Hal serupa juga dialami oleh Sumarno, staf Puskesmas Karanggede yang sudah mengabdi selama kurang lebih 30 tahun. Namun kali ini, di saat kurang empat tahun lagi masuk masa pensiun dia dipindah. Tak tanggung-tanggung, wilayah tugasnya yang baru kali ini di Puskesmas Cepogo yang jarak tempuhnya sekitar dua jam perjalanan.
“Tega sekali, padahal selama tugas tidak pernah saya bolos bahkan cuti pun tidak pernah, bisa dicek absen saya,” terang warga Dukuh Blumbang, Desa Bantengan, Kecamatan Karanggede.
Dia sama sekali tidak menyangka bakal dimutasi sejauh itu. Kontan saja wajahnya langsung muram. (Ario Bhawono)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :