Minggu, 12/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Umar Patek Target Densus Berikutnya

Kamis, 11/03/2010 09:00 WIB - dtc

JAKARTA—Belum jelas bagaimana pentolan teroris buronan empat negara – Amerika Serikat, Indonesia, Filipina dan Australia – seperti Dulmatin bisa leluasa menerobos perbatasan Filipina dan pulang ke Indonesia. Polisi bahkan meyakini Dulmatin tidak sendirian pulang ke Tanah Air, tetapi ada tokoh lain yang juga buron utama sejak kasus Bom Bali I, yakni Umar Patek juga ada di Indonesia.
Kapolri Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, dalam jumpar pers di Mabes Polri, Rabu (10/3) yang memaparkan kematian Dulmatin, mengakui ada satu buron yang masih dalam pengejaran. Karena itu, Kapolri sengaja menutup salah satu foto yang memuat gambar Dulmatin cs, yang diperoleh dari kepolisian Filipina.
Foto-foto itu bertuliskan “terrorist” dan “murderer”.  “Masih ada satu lagi, tapi ini jangan dulu, karena masih menjadi target kami,” jelas Kapolri.
Diduga kuat foto yang tidak diperlihatkan adalah foto Umar Patek. Sebab, Kepolisian Filipina memang mengeluarkan sepasang foto dengan format, warna dan tampilan sama yaitu foto Dulmatin dan Umar Patek. Umar Patek alias Mike dihargai Rp 9,3 miliar (US$ 1 juta) oleh pemerintah AS.

Kapolri menjelaskan jajarannya akan terus melakukan perburuan. Dia berterima kasih atas kerja sama masyarakat terutama di Provinsi NAD dalam memberantas terorisme kali ini.
Masuknya Umar Patek di Indonesia, diperkirakan juga bersamaan dengan Dulmatin, sekitar dua bulan lalu.  “Ada yang melakukan kontak dengan dia dua bulan lalu, biasanya dia pakai nomor luar negeri, tapi sekarang pakai nomor dalam negeri,” terang sumber di Jakarta yang enggan disebutkan namanya.
Alasan kuat, Dulmatin, Umar Patek, dan rekannya Heru Kuncoro pergi dari Filipina, karena di sana tengah gencatan senjata. Selain itu tiga serangkai ini kehabisan logistik untuk pembiayaan pasukan mereka. “Mereka kesulitan dana,” tambah sumber itu.
Umar Patek seperti halnya Dulmatin memiliki keahlian merakit bom dan persenjataan. “Dia memang tidak akan bersama dengan Dulmatin di tempat yang sama, tapi lokasinya tidak mungkin berjauhan,” tutup sumber itu.
Seperti halnya Dulmatin, Umar Patek juga merupakan salah satu buronan internasional. Dia dihargai US$ 1 juta, dia merupakan salah satu otak bom Bali I.”Dia yang membeli perlengkapan untuk bom,” terang sumber itu. (dtc)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :