Sabtu, 11/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Tonggak Sejarah yang Terdesak

Kamis, 15/04/2010 09:00 WIB - dtc/oke/rik

Nasi sudah menjadi bubur. Ratusan warga dan aparat keamanan dari Satuan Polisi Pamong Praja dan Polisi telanjur cedera, bahkan dua anggota Satpol PP tewas. Tak kurang dari 50 mobil dan beberapa perkantoran hangus atau dijarah massa yang mengamuk di Priok, Jakarta Utara, Rabu (14/4). Siapakah sosok Mbak Priok yang mampu menyulut emosi massa sedahsyat itu?
Masyarakat Jakarta mengenal Mbah Priok sebagai tokoh penyebar agama Islam di abad 18, Habib Hasan bin Muhammad Al Haddad.

Habib Hasan meninggal pada tahun 1756 karena kapalnya terkena badai di laut utara Jakarta. Saat dimakamkan, batu nisannya adalah dayung patah dan periuk nasi milik Habib Hasan. Di makam itu juga ditanam bunga tanjung. Kemudian, dari makam ini lahirlah nama Tanjung Priok yang merujuk pada bunga tanjung dan periuk nasi di makam ulama ini.
Dahulu, makam asli Mbah Priok ada di kawasan Pondok Dayung. Makam ini lalu dipindahkan ke lokasi yang ada sekarang. Menurut Umar, salah satu pengurus makam Mbah Priok, peziarah bukan hanya warga umumnya, namun pejabat juga kerap datang ke makam tersebut. Sebut saja Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan almarhum KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, dan keluarga Cendana pernah menziarahinya.
Namun, sejak belasan tahun lalu masalah timbul, karena makam tersebut terletak di area Tanjung Priok yang merupakan pelabuhan terbesar di Indonesia. PT Pelindo II yang mengelola Tanjung Priok, mengklaim sebagian bangunan yang ada di makam Mbah Priok berdiri di atas lahannya.
Klaim PT Pelindo itu tak lepas dari kebutuhan sebuah pelabuhan internasional yang mutlak harus steril dan tertutup. Konon karena keberadaan makam itu, US Coast Guard menyatakan Tanjung Priok sebagai satu dari 10 pelabuhan yang tidak aman di Indonesia.
Kepala Bidang Informasi dan Komunikasi Pemrov DKI Cucu Ahmad Kurnia saat jumpa pers kemarin mengakui, sengketa tersebut telah terjadi  selama bertahun-tahun dan telah dibawa ke Pengadilan Negeri Jakarta Utara. Para ahli waris mengklaim kepemilikan tanah di lokasi tersebut dengan mendasarkan pada Eigendom Verponding no 4341 dan No 1780 di lahan seluas 5, 4 Ha. Namun PN Jakarta Utara pada tanggal 5 Juni 2002 telah memutuskan tanah tersebut secara sah adalah milik PT Pelindo II.
Makam yang diyakini warga sebagai makam Mbah Priok pun sebenarnya sudah di pindahkan ke TPU Semper.
Pemerintah DKI sendiri, menurut Cucu, mengaku tidak ada rencana untuk menggusur makam atau petilasan Mbah Priok. Justru, pihaknya akan memugar dan membangun monumen sejarah yang juga tetap bisa diakses peziarah. Kalau memang seperti itu niatnya, dari mana api kerusuhan itu timbul? Kesalahpahaman belaka atau ada yang salah urus dalam aksi ribuan aparat Saptol PP kemarin, haruslah dicari sebabnya dan yang bersalah atau lalai harus bertanggung jawab. (dtc/oke/rik)

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :