Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Tiga Siswa Terpaksa Mengerjakan UN di Rutan

Selasa, 23/03/2010 09:00 WIB - Bonus Wibowo Bramhartyo/Murniati/Wardoyo Widjanarko

Dari sekitar 14.556 peserta Ujian Nasional (UN) di Kota Surakarta, ada tiga siswa yang terpaksa mengerjakan soal di rumah tahanan (rutan) kelas I Surakarta. Ketiganya, YF (17), AR (17) dan WR (17), merupakan siswa SMK yang terjerat kasus pencabulan.
Ketiganya mendekam di rutan Surakarta, sejak 8 Maret, lalu setelah kasusnya dilimpahkan penyidik Poltabes Surakarta. Kini, mereka bertiga mengerjakan soal UN di ruang Perpustakaan. Kemudian, mulai Selasa (23/3), hari ini ketiganya dipindahkan ke ruang Dharma Wanita dengan dalih tempat yang lebih representatif. Demikian disampaikan Kepala Rutan kelas I Surakarta, Azwar.
“Alasan pemindahan ketiga warga binaan tersebut tidak ada maksud apa-apa. Sebelumnya mereka berada di Perpustakaan dan kami kira tempat tersebut kurang mendukung,” ungkapnya kepada Joglosemar, Senin (22/3). 
Hal senada diungkapkan Kepala Seksi Pelayanan Tahanan Rutan kelas I Surakarta, Agustiyar Ekantoro. Dalam data yang perolehnya, ketiga warga binaan tersebut merupakan tahanan kejaksaan yang masih dalam tahap penyidikan. Diakuinya, mereka mulai masuk dalam rutan kelas I Solo sejak 8 Maret dalam kasus pelanggaran UUPA. “Mereka bertiga mulai dipindahkan ke rutan kelas I Solo bulan ini.

Sebelumnya, telah melalui beberapa proses permohonan ujian dari pihak keluarga, sekolahan baru muncul aturan kebijakan dari hasil koordinasi dengan kejaksaan yang bersangkutan,” tandasnya.
Tim Pengawas Independen (TPI), Tri Jono menyatakan pihaknya dalam melakukan pengawasan tidak memberikan hak-hak khusus bagi warga binaan. Katanya, semua diberlakukan sama baik tempat, pelayanan atau pengawasan, layaknya peserta Ujian Nasional (UN) pada umumnya.
“Tanpa terkecuali warga binaan yang mengikuti UN mendapatkan perlakuan yang sama. Prosedur pengawasan tidak ada perbedaan dengan tahun lalu, tetap menginduk pada POS yang telah ada,” ujarnya.
Sementara itu, bertepatan dengan momentum UN untuk siswa SMA/SMK sederajat, sejumlah pengasong Joglosemar melakukan aksi simpatik UN, Senin (22/3). Aksi yang digelar di lampu merah Gladak tersebut dilakukan dengan membentangkan spanduk yang bertuliskan Jangan Gaduh, Ada UN.
Koordinator aksi, Mayor Haristanto mengatakan digelarnya aksi sebagai wujud kepedulian pengasong terhadap agenda tahunan tersebut.
”Kami melakukan ini sebagai wujud kepedulian terhadap apa yang sedang dilewati oleh generasi muda yakni pelaksanaan UN. Tema aksi ini adalah menciptakan suasana yang kondusif, karena siswa membutuhkan konsentrasi untuk mengerjakan soal-soal UN,” ungkap Mayor kepada Joglosemar, Senin (22/3).
Menurut dia, aksi ini dapat juga dijadikan untuk menumbuhkan solidaritas antarsesama. ”Lantaran para pengasong usianya hampir sama dengan siswa SMA, maka acara ini juga dapat dijadikan sebagai momentum memupuk solidaritas para pengasong dan siswa,” tutur Presiden Republik Aeng-aeng, itu.
Keluar Sekolah
Sementara itu, dari Sragen dilaporkan, siswa kelas XII SMA Saverius Sragen, Septian Dwi Ariyanto, memilih keluar sekolah dua pekan sebelum UN. Alasannya, Septian tidak ingin berhadapan dengan UN.
”Dia sudah keluar sekitar dua pekan begitu jadwal UN dimunculkan. Alasannya karena takut tidak bisa mengerjakan. Kami juga sudah mencoba mendatangi ke rumahnya dan memberi motivasi agar mau masuk dan ikut UN tapi anaknya sendiri yang tidak mau,” papar Unik Tri Utami, Wakil Kepala Bidang Kurikulum SMA Saverius kepada Joglosemar.
Keputusan Septian memang disayangkan banyak pihak. Akibat kenekatannya itu kerja kerasnya menimba ilmu selama hampir tiga tahun hangus tanpa hasil.
”Tidak kurang-kurang saya menasihati dan saya bujuk agar mau ikut ujian tapi memang yang nglakoni ndak mau. Kami orangtua sudah ndak bisa apa-apa,” tutur Asih, ibu Septian yang sehari-hari membuka warung tenda kecil-kecilan di daerah Mageru, Sragen.
Septian yang ditemui menolak berkomentar panjang lebar. ”Saya sekarang ya di rumah saja,” tuturnya sedikit ketakutan.
Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sragen, Gatot Supadi mengaku sangat menyesalkan keputusan yang diambil Septian. (Bonus Wibowo Bramhartyo/Murniati/Wardoyo Widjanarko)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :