Senin, 13/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Tiga Kali ”Mati”, Dihargai Rp 93 M

Rabu, 10/03/2010 09:00 WIB - dtc/oke

Ruko Multiplus di Gang Asem Jalan Setiabudi, Pamulang, Tangerang Selatan tampaknya menjadi tempat terakhir pengembaraan para teroris Bom Bali I. Di rumah itu, Selasa (9/3) kemarin Densus 88 menembak mati tiga teroris.
Ketiganya adalah YI alias M, R dan H. Dua dari tiga teroris yang ditembak mati itu  diduga kuat adalah Dulmatin dan Umar Patek. Dulmatin adalah teroris Bom Bali I yang  ahli dalam meracik bom. Oleh Amerika Serikat nyawanya dihargai 10 juta dolar AS atau setara Rp 93 miliar. Sedangkan Umar Patek dihargai 1 juta dolar AS atau Rp 9,3 miliar.
Masih sumir memang untuk memastikan dua dari teroris yang tewas adalah Dulmatin dan Umar Patek.

Namun para pengamat teroris meyakini kedua militan didikan Al Qaeda di Afghanistan memang mereka. ”Kemungkinan, saya sudah pasti itu Dulmatin. 75 persen Dulmatin,” ujar pengamat teroris, Mardigu, Selasa (9/3).
Teka-teki inisial teroris YI yang tewas juga diyakininya sebagai Umar Patek. Inisial YI menurutnya tak lain adalah Yahya Ibrahim. ”Yahya Ibrahim itu Umar Patek,” kata Mardigu. Umar Patek, lanjut Mardigu, maksudnya adalah Umar kecil. Hal itu sesuai dengan ukuran tubuhnya, yakni 160 cm. ”Jadi dia sebagai korlap, seperti Syaifuddin Zuhri, bukan Noordin M Top,” sambungnya.
Menurutnya, saat ini ada tiga teroris yang dicari di dunia. ”Pertama, Dulmatin dan dihargai 10 juta Dolar AS, kedua Zulkarnaen dihargai 1 juta dolar AS dan Umar Patek dihargai 1 juta dolar AS oleh pemerintah AS,” jelasnya.
Kadensus 88 Brigjen Pol Tito Karnavian sendiri menyebutkan, bahwa kelompok teroris di Ruko Multiplus Pamulang adalah pemain lama. ”Itu nama besar,” kata Tito.
Dulmatin yang mendapat perhatian khusus dalam penggerebakan teroris di Pamulang kemarin, karena sepak terjangnya yang paling ditakutkan pemerintah AS. Hebatnya, dia selama ini dikabarkan tewas dalam berbagai aksi serangan militer Filipina.
Pria keturunan Arab-Jawa tercatat sudah pernah dikabarkan tiga kali tewas. Dulmatin pernah dikabarkan tewas dalam serangan udara militer Filipina di Pulau Mindanau, Filipina Selatan pada Januari 2005. Namun, ternyata hal itu tidak dapat dikonfirmasi. Pihak militer Filipina kembali mengabarkan, Dulmatin telah terluka dalam sebuah baku tembak di Jolo, Filipina Selatan pada 16 Januari 2007.
Jejak Dulmatin kemudian tercium pada 2008. Pada 19 Februari 2008, aparat Filipina mengungkapkan penemuan mayat yang diduga sebagai Dulmatin dalam sebuah makam di Selatan Provinsi Tawi Tawi. Dan kabar terakhir tewasnya Dulmatin adalah dari aksi penggerebakan Densus 88 di Pamulang.
Seperti halnya teroris lain, Dulmatin memiliki berbagai nama samaran seperti Amar Usmanan, Joko Pitoyo, Joko Pitono, Abdul Matin, Pitono, Muktarmar, Djoko, dan Noval. Dulmatin lahir di Desa Petarukan, Kecamatan Petarukan, Pemalang, 6 Juni 1970.
Di bawah petunjuk Dr Azahari, Dulmatin adalah spesialis perakit bom dan ahli elektronik yang diyakini berada di balik peristiwa Bom Bali I. Pasca-Bom Bali I, Dulmatin diduga melarikan diri ke Filipina pada pertengahan Oktober 2003. Dia bergabung dengan jaringan Abu Sayyaf.
Teroris yang tewas yang diduga Dulmatin itu sebelum terjadi aksi penggerebakan oleh Densus, sering terlihat main internet di warnet Multiplus. ”Pria itu sudah tiga kali main warnet. Kalau main nggak lama, paling cuma satu jam,” kata karyawan Multiplus, Sodik, di Ruko Multiplus. (dtc/oke)

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :