Berbeda dengan komunitas suporter klub lainnya yang tabu dengan tradisi lokal, cita rasa penggila Juventus di Solo ternyata berbeda dan punya pilihan unik. Komunitas yang tergabung di Juventus Club Indonesia (JCI) Chapter Solo ini ternyata dalam mengepakkan sayapnya memilih konsep natural dengan gaya Solo.
“Yang penting anggota punya rasa cinta sama Juve tapi tanpa harus meninggalkan warna Solo sebagai ciri khas,” terang Aji Joko Santoso, pengurus JCI bangga.
Makanya tak mengherankan, dengan modal kedaerahan itu, eksen atau gaya Solo terlihat kentara di tiap acara yang digelar JCI. “Pokoknya nuansa lokalis banget termasuk urusan selera menu,” lanjut dia seraya menyebut menu tradisional yang disuguhkan kala acara nonton bareng.
Meski bergaya priyayi Solo, tapi bicara kesetiaan, hal itu mutlak yang ada di dada para anggota JCI. Bahkan saking begitu loyalnya, perhatian mereka benar-benar tanpa batas. Seperti ketika klub berjuluk Nyonya Tua itu terjerat kasus pengaturan skor dan diganjar degradasi ke Seri B, mereka tetap setia dan aktif menonton kiprah Alesandro Del Piero dkk. “Tak ada halangan, hasrat teman-teman tinggi sampai kita belain cari kabar dan nonton main Juve via internet,” kenangnya.
Hingga akhirnya gayung bersambut, Juve segera balik ke Seri A musim 2007/2008 sekaligus membuat penggila Juve riang. Termasuk menggebrak Solo dengan konsep membangun Solo lebih hidup terutama lewat jaringan Juventini. Sejarah pun lahir ketika trio Abi-Hafi dan Rafi mencoba memediasi lahirnya komunitas.
Kini setelah satu tahun berjalan, tercatat lebih dari 70 (member Solo) serta 15 anggota JCI Pusat telah terdaftar di Kota Bengawan. “Ya setelah balik ke Seri A antusias teman-teman cukup bagus dan kebetulan ada wadah futsal atau nonton bareng,” lanjut William Boen, Bendahara JCI.
Puaskah? Ternyata belum, begitu lontaran Arlina, Pejabat Humas seraya menyebut program khusus untuk menggenjot member. Selain melakukan kegiatan show of force tiap Sabtu malam atau malam Minggu di jalan protokol Slamet Riyadi, JCI Solo bakal akan melakukan gebrakan bagi-bagi brosur di Manahan setiap Minggu pagi. “Ini upaya kita untuk ngumpulin member, sebab selama ini banyak yang belum tahu kiprah JCI,” jelas dia.
Satu harapannya, ke depan JCI Solo bisa lebih berkembang termasuk melebarkan jaringan ke beberapa wilayah Surakarta seperti Sragen, Karanganyar maupun Klaten. (Wahyanuddin)
Tifosi Aroma Priyayi
Sabtu, 13/03/2010 11:00 WIB - Wahyanuddin








