Kinerja Densus 88 Anti-Teror Mabes Polri patut diacungi jempol dalam pemberantasan dan pengejaran terhadap jaringan terorisme di Indonesia. Sejumlah keberhasilan telah diraih. Mulai dari pengungkapan jaringan Ali Gufron, Dr Azahari, pengejaran Noordin M Top hingga belum lama ini adalah perburuan terhadap Dulmatin. Densus juga berhasil mencegah meluasnya ancaman terorisme di Aceh dengan melakukan serangkaian penyerangan terhadap sarang teroris.
Namun, apakah cukup hanya dengan mengejar dan kemudian menembak mati para tersangka teroris tersebut? Apakah akar-akar tersangka teroris akan habis dengan perlakuan penembakan mati mereka? Sementara, masyarakat tahu begitu panjang proses pemberantasan aksi terorisme di Indonesia. Berulang kali para pelaku juga berhasil dibekuk, ditembak, dipenjara. Namun selalu saja muncul jaringan baru dan pelaku-pelaku baru yang menjadi buruan petugas.
Ini patut menjadi perhatian pemerintah. Perlakuan keras terhadap para tersangka teroris ternyata tak bisa menyusutkan pelaku-pelaku baru yang mengancam terorisme di Tanah Air. Mereka bahkan mampu memunculkan regenerasi yang tetap solid dan menyebar ke mana-mana.
Pemerintah harus mencari pola dan strategi baru dalam upaya mengikis dan memberantas habis aksi-aksi terorisme. Pemerintah sudah seharusnya mencari celah agar anak-anak muda di Tanah Air tak tertarik untuk bergabung dengan jaringan terorisme. Tanggung jawab utama ada di pundak pemerintah.
Gerakan deradikalisasi yang selama ini menjadi program Mabes Polri dan pemerintah harus bisa menyentuh akar masalahnya. Rupanya ancaman dan tindakan keras tak menyurutkan nyali generasi baru pelaku teror. Karena masalah aksi terorisme di Indonesia dilatari masalah yang sangat kompleks.
Persoalan keadilan dan kemiskinan juga menjadi faktor penting munculnya jaringan-jaringan terorisme. Akar kemiskinan dan ketidakadilan ini harus menjadi prioritas untuk diberantas. Ketidakadilan dalam segi apa pun serta kemiskinan menjadi lahan subur terorisme. Ini diyakini menjadi faktor krusial munculnya teroris baru. Kita tidak ingin muncul Dulmatin-Dulmatin lainnya karena pemerintah salah dalam menerapkan langkah pemberantasan korupsi. (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




