WONOGIRI—Puluhan petani tembakau di Desa Kepuhsari, Kecamatan Menyaran, Wonogiri yang hendak menjual hasil panennya Rabu (28/7) kemarin, berubah menjadi aksi unjuk rasa. Pasalnya, harga jual dari perusahaan mitra petani itu jauh dari yang dijanjikan.
Salah satu perwakilan petani tembakau, Barno (40) menjelaskan, tiga minggu lalu pihak perusahaan, PT Bramara melakukan sosialisasi di Kepuhsari. Dikatakan, harga jual tertinggi Rp 55.000 per kilogram daun kering. Namun saat petani mulai berbondong-bondong ke balai desa untuk menjual hasil panenan, ternyata harga tertingginya hanya Rp 29.000.
“Jauh dari harga yang dulu disepakati saat sosialisasi. Dalam sosialisasi dijelaskan pula dengan menanam tembakau akan untung besar. Setiap 2.500 meter petani bisa untung antara Rp 8,5 juta hingga Rp 15 juta,” tambahnya.
Selain itu, petani juga diberi penjelasan bahwa harga tembakau didasarkan pada tiga warna. Untuk warna kuning dihargai Rp 55.000 per kilogram, warna cokelat Rp 40.000 per kilogram dan warna hitam Rp 10.000 per kilogram.
“Namun setelah petani panen dan tinggal menjual hasilnya, harga yang dipatok pihak perusahaan tidak seperti itu. Ternyata masih ada 25 macam harga yang standarnya tidak diketahui oleh petani. Bilangnya harga tertinggi hanya Rp 29.000 per kilogram dan terendah Rp 10.000 per kilogram. Kalau harganya seperti itu saya merugi satu ekor sapi. Demi menanam tembakau di lahan saya,” timpal Heri, petani lainnya.
Karena situasi menegang, akhirnya pihak Polsek setempat datang ke lokasi untuk menjadi mediator. Sementara itu, Suharto mewakili perusahaan menjelaskan, harga tersebut sudah ketentuan. Ada 25 grade (tingkatan) kualitas tembakau.
“Jadi tak bisa pukul rata semua harga sama. Masalah harga tertinggi di semua tempat memang harganya segitu,” terangnya. (son)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




