Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Tengkulak Jerat Petani Tembakau

Senin, 29/03/2010 09:00 WIB - son

WONOGIRI—Para petani tembakau di Dusun Sirata, Banyuadang, Kutukan, Tempel dan Buling, Desa Bubakan, Kecamatan Girimarto, Wonogiri masih terjerat tengkulak, sehingga tidak mampu mengembangkan pemasaran secara lebih luas dan petani sulit meningkatkan kesejahteraannya.
Bahkan, ketua kelompok tani tembakau di Wonogiri mengaku tidak tahu harus mencari jalur penjualan tembakau ke mana. Sehingga, setiap kali musim panen, mereka hanya bisa menjual ke tengkulak yang akhirnya hanya dijual ke Temanggung.
Sudah begitu, tengkulak juga tidak mau membeli hasil tembakau dalam bentuk kering. Akibatnya, tembakau petani hanya dibeli seharga antara Rp 2.700 hingga Rp 3.000 per kilogramnya. Padahal jika dibeli dalam keadaan kering, harganya bisa  berkisar antara Rp 5.000 sampai Rp 10.000.
“Dulu pernah dicoba untuk menjual yang kering dan sudah dirajang, tapi tengkulak tidak mau membeli. Akhirnya dijual basah. Daun dipetik lalu dijual,” terang Kadus Sirata, Parmo.
Transportasi
Kalaupun dipaksa menjual kering, jelas Parmo, rata-rata petani juga belum punya alat rajang. Sebenarnya masih banyak kendala lain yang dialami petani tembakau. Di antaranya belum punya alat semprot obat hama, tak punya alat transportasi dan prasarana untuk pengairan.
“Untuk panen hanya bisa setahun sekali, karena saat kemarau air tidak bisa dialirkan bila tidak melalui pipa. Bila pipa tersedia, panen bisa dua kali setahun,” tambahnya.
Dijelaskan Parmo, di Dusun Sirata sendiri tiap kali panen dapat menghasilkan sekitar 300 ton tembakau. Sementara di Dusun Banyuadang berkisar 35 ton. Untuk Buling, panen  kemarin mencapai 125 ton.
“Empat hari yang lalu Dinas Perkebunan sudah ke sini dan sanggup memberikan bantuan bibit dan pupuk. Tapi memang hanya untuk 15 hektare saja dari total 60,9 hektare,” jelasnya Minggu (28/3).
Keduanya sama-sama berharap agar dana bagi hasil cukai tembakau benar-benar terealisasi nantinya, agar para petani tembakau di sana, dan di Bubakan pada umumnya, bisa selangkah lebih maju. Mereka juga berharap agar pemerintah daerah memfasilitasi untuk mencarikan agen pengepul resmi agar penjualan tidak bergantung pada tengkulak lagi. (son)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :