Ada sebuah penggalan kisah kebijaksanaan seperti ini: Konon, di Provinsi Shantong, China, terdapat seorang pejabat negara yang hidupnya sederhana. Namanya Liu Yun. Dia adalah pejabat yang sangat menghargai sikap hemat, dan suka membantu orang-orang yang membutuhkan.
Suatu ketika Liu Yun dalam perjalanan untuk mengadakan rapat dengan para pejabat. Di tengah jalan, ia mampir ke beberapa toko kue, dan berhasil memperoleh kue wijen yang harganya cukup murah.
Pejabat lain yang melihat itu mengejeknya. Namun Liu Yun hanya tersenyum, memakan kue itu dan berkata kepada mereka bahwa kuenya enak. Dia berkata, “Hidup hemat adalah kebajikan. Orang yang kehilangan kebajikan akan kehilangan statusnya. Orang berbudi akan bersikap hemat.”
Pakaian Liu Yun juga sederhana. Sementara pejabat lain mengenakan kain tenunan yang halus dan mahal, Liu Yun hanya kemeja katun sederhana. Rumahnya juga sederhana, nyaris tak berbeda dengan rumah-rumah tetangganya yang lain. Ia juga tidak punya banyak pembantu dan pelayan. Istri dan anak-anaknya terlibat mengerjakan pekerjaan rumah tangga.
Kepada orang lain Liu Yun sering berkata: “Manusia memerlukan perlindungan sehingga tidak perlu khawatir akan rumah yang indah. Makanan hanya untuk mengenyangkan perut, sehingga tidak perlu cemas dengan jenis-jenis makanan. Menunggang kuda hanyalah alat transportasi, sehingga tak perlu risau dengan jenis kuda.
Dalam tradisi Jawa pun, kisah kebijaksanaan seperti ini masih ada. Yakni konsep Urip Prasaja, yang dalam bahasa Indonesia diartikan dengan konsep “Hidup Sederhana”. Buku-buku PPKn anak SD juga memuat materi “Hidup Sederhana dan Berhemat”.
Konsep hidup hemat sudah ada, dan kita mencoba menanamkannya sejak dini pada anak lewat teori. Demikian pula, mestinya perilaku orangtua, termasuk pemimpin bangsa harus bisa menjadi teladan.
Tapi apa yang terjadi? Para menteri yang mestinya cukup mengendarai mobil dinas sederhana agar hemat anggaran, justru mendapat mobil mewah seharga Rp 1,3 miliar per unit. Akhirnya terjadi kontroversi, dan lucunya, Presiden melalui juru bicaranya, Julian Aldrian Pasha mengatakan tak tahu soal pengadaan mobil mewah bagi pejabat itu. Aneh, bukan?
Andai saja konsep “Pelajaran Bertanya” ala YB Mangunwijaya benar dipraktikkan, bukan tak mungkin sehabis membaca buku PPKn si Polan akan bertanya: “Kata Pak Guru disuruh hidup hemat?” katanya sembari menonton berita televisi. (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







