SRAGEN—Krisna Tegar Abukhori (8) pasien usus buntu yang sepekan lebih disandera karena tidak mampu membayar biaya akhirnya diperbolehkan pulang. Pihak RS Mardi Lestari langsung memperolehkan Krisna pulang Sabtu (20/3) setelah kerabat pasien membayar panjar sebesar Rp 5 juta dari total biaya sebesar Rp 10 juta.
“Sabtu sore pasien sudah kami izinkan pulang setelah pihak keluarga membayar Rp 5 juta. Kami tidak peduli dari mana uang itu didapat, yang jelas hari itu mereka bisa membayar separuh dan sisanya nanti akan dilunasi kemudian hari,” papar suster yang bertugas sebagai Kepala SDM di rumah sakit swasta yang terletak di depan Mapolres Sragen itu kepada Joglosemar, Minggu (21/3).
Waluyo, ayah Krisna menuturkan uang Rp 5 juta itu diperoleh dari dana pinjaman ke salah satu koperasi yang akhirnya memajukan pencairan setelah melihat kesulitan yang mendera Waluyo. Meski lega bisa membawa pulang anaknya, namun ia mengaku bingung untuk menutup sisa tagihan biaya yang masih sekitar Rp 5 juta.
Ia mengaku sudah tak punya apa-apa lagi karena sejak anaknya dirawat di RS, ia sudah tidak bekerja lagi. Dana kredit koperasi itu pun diperoleh dari meminjam sertifikat milik orangtuanya.
Di sisi lain, kabar penyanderaan Krisna mulai memantik empati dari berbagai kalangan. Begitu muncul di media, pada Sabtu (20/3), sejumlah kalangan mulai tergerak untuk memberi bantuan. Ketua Yayasan Lembaga Mega Bintang Solo, H Moedrik Setiawan Sangidoe berencana memberi bantuan uang tunai Rp 2 juta rupiah untuk meringankan beban Waluyo. Beberapa anggota DPRD setempat juga siap memberikan sedikit donasi untuk meringankan beban keluarga miskin ini.
Sayangnya, Pemkab setempat justru terkesan tutup mata dan belum menunjukkan perhatian. Hingga kemarin, pihak kerabat mengaku belum mendapat bantuan apa pun dari pihak Pemkab.
“Kemarin yang datang petugas Puskesmas tapi hanya tanya apa sudah dibawa pulang atau belum. Mereka juga tanya berapa biayanya lalu terus pergi,” ujar Waluyo.
Seperti diberitakan, Krisna Tegar Abukhori terpaksa harus mendekam di RS selama hampir dua pekan lebih meskipun sudah sembuh tanggal 13 Maret lalu. ini terjadi lantaran pihak keluarganya tidak mampu membayar tagihan biaya operasi dan perawatan bocah kelas 2 SD itu yang nominalnya mencapai Rp 10 juta. (yok)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




