Setiap 24 Maret diperingati sebagai hari tuberkulosis (TB) sedunia. Hingga sekarang, TB masih menjadi masalah kesehatan serius dunia yang banyak terjadi di berbagai negara terutama negara-negara berkembang. Di Indonesia, TB adalah masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah penderita TB di Indonesia tertinggi di dunia setelah India dan China.
Masalah kesehatan tersebut semakin bertambah kompleks akibat komplikasi infeksi Human Immunodeficiency Virus (HIV). Pasalnya, HIV tidak hanya mempersulit diagnosis TB tetapi juga meningkatkan insidensi (angka kejadian) TB. Diperkirakan delapan juta kasus TB terjadi setiap tahunnya, yang mana dari jumlah tersebut dua pertiganya adalah di Asia Pasifik.
Menurut data regional badan kesehatan dunia (WHO), jumlah kasus kejadian TB terbesar adalah di Asia Tenggara yakni sekitar 33 persen dari keseluruhan kasus di dunia. Orang yang terinfeksi HIV berisiko sangat tinggi terinfeksi TB jika terpajan dengan orang yang terinfeksi TB. Diperkirakan sebanyak 40 persen kematian ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) terkait dengan TB, karena TB dan HIV saling berdampak buruk satu sama lain.
“Ko-infeksi TB-HIV saat ini menjadi salah satu kendala besar dalam upaya penanggulangan kedua penyakit tersebut. TB merupakan penyebab utama kematian pada orang dengan HIV, dan sebaliknya infeksi HIV menjadi faktor risiko terbesar dalam konversi kasus TB laten menjadi TB aktif,” ujar dr Agus Suharto B SpP, spesialis paru dan pernapasan dari Balai Besar Kesehatan Paru Masyarakat (BBKPM) Surakarta. Artinya, seseorang yang terinfeksi HIV sangat rentan terinfeksi TB karena virus HIV melemahkan sistem kekebalan tubuh sehingga memudahkan kuman TB berkembang secara aktif.
Sebab infeksi TB dapat memperburuk kondisi orang dengan HIV, oleh karena itu tingkat kematian ODHA dengan infeksi TB lebih tinggi dibanding ODHA tanpa TB. Meskipun pemantauan HIV pada penderita TB belum pernah dilakukan dan prevalensi infeksi HIV pada penderita TB usia dewasa (15-49 tahun) belum diketahui secara pasti, namun TB adalah infeksi terbesar kedua yang sering dialami penderita AIDS. Masalah ini menjadi lebih berat karena kedua penyakit menular tersebut sama-sama menimbulkan stigma dan memerlukan perawatan jangka panjang dan harus kontinu atau tidak boleh diobati secara terputus-putus.
“Orang yang berhubungan dengan TB harus mengetahui status HIV-nya, agar mereka dapat menyampaikan informasi ini kepada tenaga medis yang memeriksa,” jelas Agus. Hal ini penting karena tes TB mungkin saja tidak efektif pada orang HIV positif karena sistem kekebalannya rusak. Dalam keadaan ini, cara skrining yang lain dibutuhkan untuk orang dengan HIV.
Rawan Kompilasi
Pengobatan untuk infeksi TB, lanjut Agus, sebaiknya dimulai bila dicurigai terdapat TB tanpa menghiraukan hasil tes. Jika status HIV pasien tidak diketahui, penyedia perawatan kesehatan sebaiknya menawarka tes HIV dan konseling sukarela untuk membantu mencegah penyebaran penyakit TB aktif. Mengingat, langkah pengendalian TB yang paling efektif adalah menemukan dan merawat segera pasien TB.
Pasien HIV yang menjalani perawatan harus diperiksa untuk mengetahui apakah mereka terserang TB bersama anggota keluarga mereka. Walau siapa pun dapat terinfeksi TB, infeksi pada penderita HIV negatif hanya menjadi aktif setelah beberapa tahun. Sebaliknya, bila ODHA terinfeksi TB, infeksi lebih mungkin, dan lebih cepat menjadi aktif. TB aktif akan terjadi pada rata-rata 50 persen ODHA selama kehidupannya, dibandingkan dengan hanya 5 sampai 10 persen orang HIV negatif.
ODHA stadium awal biasanya memiliki gejala TB yang ringan karena bakteri berada di puncak paru. Namun, bila tingkat TB sudah stadium lanjut, penderita bisa terkena TB ekstra paru. Akibatnya, penderita rawan terkena meningitis (radang otak), peradangan jantung, pembengkakan saluran pernapasan, dan menyebabkan kematian. “Program TB umumnya terpisah dari program HIV, dan sering tidak ada hubungan di antara kedua program. Padahal kaitan antara TB dan HIV sangat erat, dan keberhasilan program TB semakin tergantung pada cara menangani HIV,” pungkasnya.
Agus menuturkan, sebagai rumah sakit pemerintah, BBKPM sampai saat ini terus berusaha menekan dan menanggulangi agar kasus penderita TB-HIV menjadi sekecil mungkin terutama di daerah Solo dan sekitarnya. Langkah tersebut dilakukan dengan melakukan observasi pada pasien yang didiagnosis terinfeksi TB guna mengetahui adanya perilakunya yang berisiko mengakibatkan infeksi HIV. Setiap penderita TB yang dicurigai terinfeksi HIV akan selalu dilakukan konseling dan testing.
“Perlu diketahui masyarakat, obat untuk TB tersedia gratis di semua puskesmas dan rumah sakit rujukan AIDS di seluruh wilayah Indonesia. Obat ini juga tersedia gratis di beberapa layanan kesehatan lain yang telah bekerja sama dalam program penanggulangan TB nasional,” pungkasnya. (Ikrob Didik Irawan)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




