Tawuran, tabiat buruk pelajar ibukota mulai menjangkiti para pelajar daerah. Di Boyolali, dua pelajar dari dua sekolah menengah kejuruan (SMK) berbeda, Selasa (27/9), nyaris bentrok. Beruntung, petugas kepolisian setempat cukup sigap, sehingga berhasil mengantisipasi bentrok yang lebih dahsyat. Polisi juga mengamankan lima orang pelajar. Dari lima pelajar itu, dua di antaranya kedapatan membawa pedang, sedangkan tiga pelajar lainnya kepergok membawa batu yang dimasukkan ke dalam tas.
Meski belum separah di Ibukota Jakarta, munculnya bibit-bibit tawuran antarpelajar ini harus mendapat perhatian sejak dini dari kita semua, mulai dari kalangan sekolah, orangtua, pemerintah daerah hingga aparat keamanan. Jika dibiarkan atau dianggap remeh bukan tidak mungkin, tawuran akan dianggap biasa oleh para pelajar. Jika hal itu terjadi, bukan tidak mungkin tawuran akan sering kita saksikan di sekitar lingkungan kita.
Kami berharap, problem tawuran ini bisa diselesaikan secara tuntas dengan prinsip sama-sama untung. Harapannya, masalah antarpelajar di dua sekolah itu selesai, tawuran tak lagi terjadi, dan para pelajar bisa kembali bersekolah seperti biasanya.
Harus kita akui, budaya kekerasan yang sering dipertontonkan di sekitar, baik melalui televisi, internet, atau bahkan langsung diperagakan oleh para orang dewasa. Hal-hal inilah yang akhirnya mempengaruhi mental anak-anak, termasuk para pelajar. Mereka kemudian mencontoh dan menerapkannya ketika mereka mendapatkan masalah. Kekerasan pun dianggap sebagai jalan keluar dari berbagai masalah yang membelitnya.
Membelenggu budaya kekerasan, jelas bukan perkara mudah. Yang mungkin bisa kita lakukan adalah membekali anak dengan budi pekerti. Dimulai dari lingkungan keluarga, sehingga peran keluarga sangatlah vital. Sekolah menjadi jembatan dari apa yang didapatkan di rumah, dan tentunya lingkungan sekitar yakni masyarakat juga memiliki peran untuk memperkenalkan norma-norma kebaikan itu.
Dalam beberapa kasus, tak ada salahnya pula mengenakan sanksi atau hukuman kepada mereka yang melakukan pelanggaran. Hukuman dibutuhkan untuk mengenalkan bahwa perbuatan tak baik akan berdampak pada hal-hal yang tak baik pula. Bahkan, jika anak sudah terindikasi melakukan kejahatan umum, hukuman pidana pun bisa diterapkan, tapi dengan tetap mengacu pada hak-hak anak.
Selanjutnya, belajar dari kasus di Jakarta, ada baiknya sekolah mulai saat ini benar-benar memperhatikan aktivitas siswa. Arahkan pelajar untuk melakukan aktivitas positif, sehingga energi mereka bisa disalurkan untuk berbagai aktivitas itu. Mumpung belum parah, mari menjadi tugas kita semua meminimalkan terjadinya tawuran ini. n
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




