Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Tangkal Banjir dengan Tarian

Kamis, 29/10/2009 22:07 WIB - Bonus Wibowo Bramhartyo

Pergelaran acara bertajuk Tanggul Keprihatinan Budaya, diselenggarakan secara spontanitas dan terbuka untuk umum oleh beberapa seniman dari Kota Solo. Bagi para seniman atau masyarakat yang ingin menampilkan karya apa pun, terbuka lebar. Ini merupakan salah satu bentuk apresiasi masyarakat tentang kebudayaan yang semakin kritis. Wujud kepedulian akan seni dan budaya tidak harus diwujudkan dengan uang, dalam acara ini spirit tanpa pamrih akan membuktikan loyalitas tertinggi bagi kaum yang peduli akan kelangsungan kebudayaan Indonesia.
Penampilan dua kelompok karawitan dari kelompok ibu-ibu Mancasan dan karawitan Ngrombo Sukoharjo mengiringi acara tersebut. Acara diawali dengan prosesi laku bisu dengan mengitari tanggul selama 20 menit menambah kesakralan suasana. Diikuti oleh sekitar 100 orang warga dan seniman yang hadir, tampak bersemangat dilakoninya. Dengan mengenakan ikat kepala bertuliskan “Tanggul Keprihatinan Budaya”, mereka saling berjalan beriringan menyusuri tanggul sejauh kurang lebih 2 kilometer, pada Selasa (27/10) malam.
Sesampainya di lokasi, peserta yang mayoritas telah berumur ini sejenak menikmati hidangan ringan yang telah disediakan panitia. Sambil beristirahat, dihibur dengan alunan musik karawitan yang telah ada. Slamet Gundono yang waktu itu juga hadir, menawarkan kepada Elly D Luthan seorang penari kawakan yang lahir di Makassar itu untuk menari. Tanpa berpikir panjang dia langsung beranjak dari tempat duduknya, dan langsung menari. Keluwesan dan aura yang muncul dari seorang Elly D Luthan, ternyata masih terlihat jelas. Tepuk tangan pengunjung yang datang pun menghiasi setiap gerakan tari sampai berakhirnya pentas.
“Acara ini sangat luar biasa, saya pribadi merasa ikut terpanggil dan prihatin menanggapi fenomena kebudayaan saat ini. Di sisi lain saya juga merasa bangga karena mereka semua yang datang di sini secara mengalir, tanpa adanya pamrih. Mudah-mudahan hal semacam ini dapat ditiru oleh para generasi muda, inilah jawaban bahwa berkesenian jika dilakukan dengan ketulusan hati,” tutur Elly D Luthan di akhir acara.
Kegiatan ini sekaligus menjadi gambaran benteng pertahanan bagi kebudayaan di Indonesia, banyak bermunculan sinyal-sinyal negatif bahwa kesenian saat ini telah menjadi lahan bisnis yang menguntungkan. Hal ini yang menjadikan keprihatinan bagi para pemerhati seni di Tanah Air.  “Bertepatan dengan jatuhnya hari Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober, acara Tanggul Keprihatinan Budaya merupakan salah satu wujud semangat hidup bagi generasi muda. Ini merupakan tongkat estafet anak-anak muda dalam berkesenian, mudah-mudahan akan terus berkelanjutan sampai kapan pun,” ungkap ketua panitia acara yang juga sebagai personel grup Sahita, Lestari Cempluk saat ditemui Joglosemar disela-sela acara.
Gelaran Tanggul Keprihatinan Budaya diselenggarakan selama lima hari berturut-turut, mulai hari Senin (26/10)-Jumat (30/10) di Dawung Wetan RT 03/15 Danukusuman, Serengan, Solo. Acara ini menampilkan beberapa pertunjukan seni antara lain pentas tari, teater, musik, macapat, karawitan, wayang kulit, diskusi kebudayaan serta Umbul Donga. Simbol “tanggul” dimaksudkan untuk menanggulangi banjir dan berbagai macam bentuk serangan dari pihak asing yang masuk ke Indonesia. (Bonus Wibowo Bramhartyo)

 

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :