Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Tanggul Sungai Dengkeng Ambrol, 120 KK Terancam

Jumat, 26/03/2010 09:00 WIB - lim

KLATEN—Dinding tanggul Sungai Dengkeng di Desa Kadilanggon, Kecamatan Wedi, Klaren,  ambrol. Akibatnya, 120 KK di Dukuh Sawit Urang dan Pacing di wilayah setempat bersiaga jika terjadi hujan lebat dan menyebabkan banjir.
Bangunan tanggul untuk menahan arus aliran sungai di pertemuan antara Sungai Dengkeng dengan Sungai Midoro di Desa Kadilanggon, Kecamatan Wedi makin tergerus. Tanggul setinggi 12 meter dengan lebar 3,5 meter itu akhirnya ambrol dan menyisakan kekhawatiran.
Sedikitnya 120 KK di dua pedukuhan itu bersiaga jika luapan air membanjiri rumah  mereka. Selain itu,  68 hektare lahan persawahan tidak akan luput dari kerusakan yang bakal diakibatkannya.
Kepala Desa Kadilanggon, Umar Muhammad mengaku kondisi itu diprediksikan bakal terjadi bilamana terjadi hujan lebat dalam waktu dekat. Pasalnya, selain lebih dari separuh tanggul longsor, posisi permukiman pun lebih rendah daripada rata muka air di sungai tersebut.
”Lebih rendah satu meter dari sungai. Jika sungai meluap, pasti membanjiri desa,” ujar dia kepada  Joglosemar, Kamis (25/3).
Pemkab setempat belum dapat memberi penanganan solutif tentang masalah tersebut. Kepala Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Klaten, Tajuddin Akbar mengatakan, wilayah jalur sungai Dengkeng merupakan kewenangan Balai Pengelolaan Sumber Daya Air (PSDA) di Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS).
Sehingga untuk penanganan secara menyeluruh perlu melibatkan pihak-pihak yang berkepentingan. Meskipun Tajuddin mengaku DPU belum melihat kondisi tanggul yang ambrol, Pemkab setempat hanya dapat membantu secara darurat saja. Misalnya dengan memberi material penahan banjir, seperti batu dan pasir.
“Nanti kita lihat dan dilaporkan. Anggaran Pemkab terbatas, jadi perlu koordinasi dengan pihak lain,” ujar dia.
Bahkan antisipasi banjir yang dapat dilakukan hanya bersifat sementara saja. Akhirnya, pemerintah desa terpaksa berupaya secara mandiri mengatasi hal itu, dengan menambal luasan tanggul yang ambrol.
Bantuan itu berupa 1.000 lembar karung pasir dan logistik berupa bahan makanan bagi warga yang bekerja bakti. Salah satu warga Dukuh Ngemplak, Desa Kadilanggon, Suhardi mengatakan, tanggul itu sudah mulai terlihat parah sekitar sepekan lalu. Tanggul yang dibangun sejak 1992 itu hingga belum mengalami perawatan fisik oleh pemerintah secara memadai.  Bahkan terjadi sedimentasi di sungai yang menghambat arus aliran air. (lim)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :