Hingga saat ini rokok telah menjadi salah satu penyebab kematian terbesar di dunia. Diperkirakan setiap tahunnya sekitar 3 juta orang meninggal dunia akibat mengisap batang tembakau itu. Bahkan pada tahun 2002 angka kematian menjadi 4,83 juta orang yang mana 50 persennya dari negara berkembang. Diperkirakan pada tahun 2020 angka kematian tersebut meningkat dua kali lipat dengan 70 persennya dari negara berkembang.
Banyak orang mengaku merasa sangat kesulitan untuk berhenti merokok, padahal sebenarnya banyak terapi yang bisa dilakukan asalkan pencandu rokok serius dan sungguh-sungguh melakukannya.
Sekitar 70 hingga 80 persen perokok berniat ingin berhenti mengisap barang yang saat ini di fatwa haramkan oleh Muhammadiyah ini. Namun dari angka tersebut hanya 5 hingga 10 persen saja yang bisa melakukannya tanpa bantuan. Data lain menyebutkan bahwa 40 persen perokok secara serius mencoba berhenti merokok, tetapi hanya 3 persen saja yang berhenti dalam 6 bulan berikutnya.
Menurut dr Yusup Subagio SpP, spesialis paru dan pernapasan dari Rumah Sakit Dr Oen Surakarta, saat orang berhenti merokok maka akan timbul gejala yang kurang nyaman yang akan dialami. Hal inilah yang terkadang membuat beberapa orang tak kuasa menahannya sehingga kembali merokok. Gejala tersebut misalnya, gangguan sulit tidur (semacam insomnia).
Gejala ini muncul karena fungsi gelombang otak kembali normal, biasanya terjadi selama 2 hingga 4 minggu. “Tips yang bisa dilakukan adalah melakukan latihan relaksasi serta menghindari kafein,” ujar Yusup, saat menjadi pembicara dalam seminar Kolesterol, Rokok, dan Penyakit Jantung dan Pernapasan, di auditorium rumah sakit itu beberapa waktu lalu.
Gejala lain adalah sakit kepala, yang terjadi karena kadar karbondioksida (CO2) menurun dan kadar oksigen meningkat. Gejala ini akan muncul lebih kurang selama 1 hingga 2 minggu. “Gejala lainnya akibat putus nikotin adalah keinginan merokok yang kuat, batuk, emosi yang tidak stabil, sulit konsentrasi, hingga nafsu makan yang meningkat karena indera pengecap kembali berfungsi,” jelas Yusup.
Dirinya menjelaskan, terdapat tiga cara penting yang dapat dilakukan pencandu rokok untuk berhenti merokok yaitu seketika, menunda, dan mengurangi. Namun hal utama yang perlu digarisbawahi adalah niat dan tekad untuk melaksanakan cara-cara tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Berhenti Seketika
Cara berhenti seketika adalah berhenti total untuk tidak merokok sama sekali. Cara ini paling berhasil, namun pada perokok berat mungkin perlu bantuan tenaga untuk mengatasi efek ketagihan karena rokok mengandung zat adiktif. Sementara cara menunda dilakukan dengan mengundurkan waktu dari kebiasaan merokok yang sering dilakukan. Misalnya, menunda mengisap rokok pertama dua jam setiap hari sebelumnya dan selama tujuh hari berturut-turut. “Sebagai contoh, jika biasanya merokok setiap hari pada pukul 07.00 WIB maka pada hari pertama merokok pada pukul 09.00 WIB, hari kedua pukul 11.00 WIB, hari ketiga pukul 13.00 WIB, begitu pula seterusnya hingga hari ketujuh,” paparnya.
Sementara itu, cara mengurangi adalah dengan secara berangsur-angsur mengurangi rokok yang diisap setiap harinya sampai 0 batang pada hari ketujuh atau yang ditetapkan. Misalkan saja, tiap harinya seseorang mampu menghabiskan 28 batang rokok. Maka dapat merencanakan pengurangan jumlah rokok selama tujuh hari dengan jumlah pengurangan sebanyak empat batang per hari. Sebagai contoh, hari pertama menghabiskan 24 batang, hari kedua 20 batang, hari ketiga 16 batang, hari keempat 12 batang, begitu seterusnya hingga hari ketujuh menjadi 0 batang.
Saat ini banyak rumah sakit yang menyediakan pelayanan untuk berhenti merokok yang dikenal dengan klinik berhenti merokok. Yusup menjelaskan, klinik berhenti merokok merupakan unit pelayanan dalam lingkup rumah sakit yang menyediakan program pengobatan berhenti merokok baik terapi berupa farmakologi dan nonfarmakologi yang dapat dimanfaatkan masyarakat. Umumnya pelayanan yang dilakukan adalah edukasi dan konseling terpadu, edukasi awal, konseling lanjut, farmakologi, (varenicline, bupropion SR, dan nicotine replacement therapy), serta rehabilitasi medik.
Yusup menambahkan, nicotine replacement therapy (NRT) merupakan metode yang sangat efektif meningkatkan keberhasilan berhenti merokok, yaitu delapan kali lebih efektif dibandingkan dengan terapi lain. Caranya adalah dengan mengurangi kadar nikotin secara perlahan-lahan.
Selama dua minggu, pasien akan diberikan nikotin berbentuk plester, permen karet yang merupakan obat lini pertama. Sementara nikotin nasal spray digunakan untuk perokok yang lebih berat. “Prinsip penggunaan NRT adalah berhenti merokok, dengan menurunkan kekambuhan, melepaskan adiksi psikologi, dan sesudah 2 hingga 4 bulan hentikan NRT,” imbuhnya. (Ikrob Didik Irawan)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




