Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Tak Semua Kosmetik Aman Dipakai Hati-hati Kandungan Kimia Berbahaya

Sabtu, 20/03/2010 09:00 WIB - Ikrob Didik Irawan

Kaum hawa memang ditakdirkan gemar bersolek, hingga mereka rela mengeluarkan uang hingga jutaan rupiah untuk membeli kosmetik agar tampil cantik. Sesuai dengan fungsinya, kosmetik berguna untuk melindungi kulit dan mempercantik wajah. Namun, ada kalanya kosmetik justru membawa bencana bagi pemakainya sebab mengandung bahan kimia berbahaya. Untuk itu kaum perempuan harus berhati-hati dalam memilih kosmetik agar bisa tampil cantik namun tidak berisiko.
Dengan jumlah penduduknya yang mencapai 230 juta jiwa, Indonesia merupakan pasar yang sangat menggiurkan bagi produsen kosmetik. Tak heran jika mimpi menjadi putih atau kuning langsat kini memang semakin mudah diraih. Perempuan semakin mudah mendapatkan produk pemutih kulit, atau lebih tepatnya pencerah kulit. Produk yang ditawarkan mulai dari pengoles wajah berupa krim siang, krim malam, sabun wajah, dan sabun mandi, hingga deodoran.
Menurut dr Prasetyadi Mawardi SpKK, spesialis kulit dan kelamin RSUD Moewardi Surakarta, dalam dua dekade terakhir terdapat pergeseran nilai yang berkembang dalam masyarakat yang sejalan dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) termasuk adanya globalisasi informasi. “Saat ini tampil cantik dengan beragam kosmetik sudah menjadi kebutuhan utama seseorang. Apalagi bagi individu-individu yang bergerak di bidang jasa, publik figur dan bidang kemasyarakatan lain, yang menuntut nilai lebih perawatan kulit, rambut dan estetika,” paparnya.
Kosmetik-kosmetik yang dianggap berbahaya ditengarai mengandung rodamin B, merkuri, dan hidroquinon. Ketiga bahan kimia ini dapat menimbulkan efek negatif bagi konsumen. Merkuri misalnya, sering kali dianggap sebagai whitening agents. Inilah sebabnya, banyak produsen kosmetik senang menambahkan merkuri ke dalam produknya untuk memberi kesan kulit lebih putih bersinar. Pemakaian merkuri dapat menimbulkan efek beragam, mulai dari perubahan warna kulit, iritasi kulit, kerusakan permanen pada susunan syaraf, otak, ginjal, dan gangguan perkembangan janin. Umumnya, kosmetik yang mengandung bahan berbahaya adalah yang memberikan efek pemutih pada kulit dengan waktu cepat.
Rasional dan Bijaksana 
“Di sinilah pentingnya memahami secara rasional dan bijaksana terhadap berbagai tawaran tersebut (kosmetik). Apabila kita hanya mengikuti ajakan seseorang atau kata hati tanpa pertimbangan rasional, bukan hasil maksimal yang kita peroleh, namun kekecewaan dan ongkos besar yang kita dapatkan,” papar Pras, panggilan akrabnya, yang juga Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin (Perdoski) Cabang Surakarta.
Efek samping yang sering dijumpai misalnya, kulit menjadi berjerawat, kemerahan seperti terbakar, maupun kelainan pigmentasi, yaitu kulit menjadi lebih hitam atau bercak-bercak keputihan di wajah yang tidak beraturan.
Setidaknya, terdapat tiga tingkat atau gradasi efek samping yang mungkin terjadi akibat penggunaan kosmetik yang berbahaya. Pertama, kategori ringan, yakni bila keluhan tidak mengganggu kegiatan sehari-hari, gejalanya iritasi sehingga tidak memerlukan terapi khusus. Dengan menghentikan pemakaian kosmetik penyebab, maka gejala akan menghilang. “Sekitar 85 persen kasus efek samping kosmetika terjadi pada tingkat ini,” jelas Pras.
Kedua, kategori sedang, yakni bila keluhan yang terjadi sudah mengganggu penderita dalam waktu yang lama dan gejala klinis yang nyata. Pada kondisi ini, penderita memerlukan bantuan dan pengobatan dokter.
Sesak Napas
Ketiga, efek samping berat, bila keluhan yang terjadi sangat mengganggu kegiatan sehari-hari, disertai gejala klinis berupa nyeri dan gatal serta gejala sistemik seperti demam, pusing dan sesak napas. Pada kasus ini, penderita memerlukan pengobatan intensif baik topikal maupun sistemik.
Oleh karena itu Pras mengimbau, sebelum menentukan untuk membeli bahan kosmetik tertentu ada baiknya memperhatikan beberapa hal. Hal yang paling utama adalah meminta informasi secara jelas dan gamblang kandungan bahan maupun obat yang ada dalam kosmetik tersebut. “Ini berguna agar tidak terjadi misused (salah pakai) atau abuse (berlebihan) yang dapat menyebabkan efek samping kosmetika,” jelasnya.
Selain itu, jika melakukan perawatan di klinik-klinik perawatan, pastikan yang menangani adalah orang yang ahli di bidangnya, atau dokter yang memiliki kompetensi di bidang kosmetik medik, yaitu dokter spesialis kulit. Karena saat ini klinik-klinik perawatan tumbuh subur bak cendawan di musim hujan.
“Jangan pula mudah tergiur dengan produk iklan, kata teman atau keluarga atau dengan iming-iming harga murah. Jangan memiliki pandangan secara instan dalam  melakukan perawatan kulit, rambut maupun estetik medik lainnya. Sebab semua membutuhkan proses yang berkesinambungan untuk mencapai hasil,” pungkasnya. (Ikrob Didik Irawan)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :