Jumat, 10/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Tak Narsis = Rendah Diri

Minggu, 09/05/2010 09:00 WIB - lea

Setiap manusia memang memiliki kecenderungan narsis dalam kadar tertentu normal dan umum. Namun dalam kadar yang ekstrem, narsis bisa mengarah pada gangguan atau masalah kepribadian yang klinis, seperti yang kita kenal dengan istilah narcissistic personality disorder.
Dalam kadar yang normal, kecenderungan narsis yang mendorong seseorang untuk mengembangkan diri dan egonya. Membangun ego penting agar seseorang tetap merasa bahwa dirinya kompeten dan penting. Jika orang tak memiliki sikap ini maka sikap yang terbangun adalah sikap rendah diri.
Dalam kadar berlebih sehingga masuk dalam kategori gangguan klinis, narsis atau kecintaan terhadap diri justru mengarah pada membesar-besarkan diri secara berlebihan. Diri sendiri dipersepsi begitu hebat, penting, besar dan butuh untuk selalu dikagumi atau dipuja. Akibatnya, individu kehilangan kemampuan untuk berempati terhadap orang lain.
Kehilangan kemampuan berempati, menjadikan individu rentan akan eksploitasi orang lain untuk kepentingan dirinya sendiri, senang mengendalikan orang lain, menyalahkan. (lea)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :