Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Tak Mampu Bayar RS, Pasien ”Disandera”...

Sabtu, 20/03/2010 09:00 WIB - Wardoyo Widjanarko

Entah sampai kapan cerita penderitaan si miskin bakal berakhir. Belum reda kisah pilu pasien miskin yang kesulitan mendapat pengobatan, kini cerita serupa kembali menyeruak dari salah seorang warga miskin di Kabupaten Sragen.
Cerita itu datang dari Waluyo (45), warga Ringinanom RT 5/XVIII, Sragen Kulon. Betapa tidak, niatnya untuk segera membawa pulang anaknya Krisna Tegar Abukhori (8) dari rumah sakit harus tertunda. Pasalnya, ia tak punya uang untuk membayar biaya perawatan Rp 10 juta. Lantaran tak mampu membayar biaya itulah, anaknya “disandera” oleh pihak rumah sakit selama hampir sepekan lebih.
Ya, hingga Jumat (19/3) kemarin, Tegar masih harus mendekam di bangsal kelas III di salah satu rumah sakit swasta di Sragen. ”Wegah nang kene terus, Pak. Aku wis mari, ayo ndang cepet mulih, Pak. Aku pengin ndang mlebu sekolah pak (Tidak mau di sini terus, saya sudah sembuh, ayo cepat pulang, Pak. Saya ingin cepat sekolah-red),” pinta Tegar yang merupakan siswa kelas II SDN 2 Sragen itu.
Menurut penuturan Waluyo, Tegar dirawat sejak tanggal 3 Maret lalu dengan diantar oleh istrinya Warti (36). Pihak rumah sakit kemudian menawarkan opsi operasi dan istrinya pun menyetujui dengan langsung menandatangani surat pernyataan. Anehnya, setelah menandatangani surat persetujuan, Warti kabur ke Madura.
Setelah dioperasi, Tegar diharuskan menjalai pemulihan hingga dinyatakan sembuh total tanggal 13 Maret.

Namun, kesembuhan Tegar mendatangkan persoalan baru bagi Waluyo. Ya, ia diharuskan membayar Rp 10 juta agar bisa membawa pulang anaknya. Penghasilan pas-pasan dari jualan bakso yang ditekuninya tak cukup memberinya banyak uang. Alih-alih punya tabungan, penghasilannya per hari yang hanya sekitar Rp 25.000 hanya cukup untuk membiayai kebutuhan sehari-hari.
Baginya uang sebesar itu amatlah banyak dan mustahil bisa diupayakan dalam sehari sehingga ia mengajukan kelonggaran sampai mendapat pinjaman. Tak pelak, selama dua hari, ia pontang-panting dari satu lembaga ke lembaga lain untuk mencari pinjaman. Namun pengajuannya selalu ditolak dengan alasan nominal yang diajukan terlalu besar. Usahanya baru menuai hasil pada hari keempat setelah mengakali pengajuan kredit dengan meminjam nama anaknya yang sudah tercatat sebagai nasabah di salah satu bank.
”Dapatnya hanya Rp 8,5 juta dan masih disemayani (dijanjikan) hari Senin besok. Itu pun masih dipotong sisa kredit anak saya sekitar Rp 3,5 juta sehingga uang yang untuk biaya hanya tinggal Rp 5 juta,” paparnya.
Pihak rumah sakit sendiri tidak menutup mata dan memberi kelonggaran kepada orangtua pasien agar membayar separuh dulu dan sisanya bisa disusulkan kemudian. ”Kami juga paham kondisinya tapi bagaimana lagi aturannya memang begini. Tapi kami juga sudah cukup longgar kalau ada separuhnya atau berapa pun sudah bisa dibawa pulang,” tutur salah satu suster di bagian SDM yang enggan disebut namanya.
Sementara, Ketua RT 8, Ringinanom, Suprapto membenarkan warganya itu masuk kategori tidak mampu. Ia juga mengungkapkan Waluyo memang tidak masuk dalam daftar warga penerima fasilitas Jamkesmas. ”Saya sempat sarankan agar mengurus keringanan atau jaminan tidak mampu tapi katanya tidak punya cukup waktu. Oleh rumah sakit katanya hanya diizinkan mencari dana saja,” tandasnya. (Wardoyo Widjanarko)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :