Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Tak Cocok pada Pasien dengan Pengapuran

Sabtu, 04/02/2012 06:00 WIB - Triawati Prihatsari Purwanto

Dengan tingkat radiasi yang rendah, dapat dikatakan pemeriksaan tingkat kekeroposan tulang dengan Bone Mineral Densitometer (BMD), merupakan cara terbaik. Selain itu, BMD juga tidak memiliki kontra indikasi. Hanya saja, pemeriksaan BMD tidak dapat dilakukan pada beberapa kasus.
Dokter Spesialis Radiologi RS Ortopedi Prof Dr Soeharso Surakarta, dr Handry Tri Handojo SpRad menuturkan, dapat dikatakan bahwa kelemahan BMD yaitu tidak dapat dilakukan pada pasien dengan skoliosis atau tulang bengkok. Pemeriksaan dengan BMD juga tidak dapat dilakukan pada seseorang dengan tingkat pengapuran banyak pada tulangnya. “Dengan pengapuran yang banyak, hasil BMD akan lebih tinggi. Dengan kata lain, hasilnya tidak akan maksimal. Jika memang begitu, tempat pengukuran biasanya akan diganti,” katanya.
Dr Handry menambahkan, beberapa bagian tubuh yang biasanya digunakan sebagai media pengukuran kekeroposan tulang adalah spine atau tulang belakang, lumbal atau tulang pinggul bawah, hipe atau tulang leher dari paha, serta forearm atau tulang lengan bawah. Di sisi lain, pemeriksaan BMD tidak dapat dilakukan positioning atau tulang yang ditekuk dan pada seseorang yang tidak dapat berbaring lama.
Sementara itu, pada kasus skoliosis yang tetap ingin melakukan pemeriksaan deteksi dini kekeroposan tulang dapat dilakukan dengan menggunakan alat radiology lain yaitu Q CT dimana merupakan CT scan khusus untuk mengetahui densitas tulang yang dilakukan pada tulang belakang. Sedangkan untuk kasus pengapuran, pengukuran bisa dilakukan pada bagian forearm. “Dibutuhkan edukasi sendiri agar masyarakat sadar untuk melakukan deteksi dini osteoporosis. Pasalnya, tingkat kesadaran dan kepedulian masyarakat kita tentang hal ini masih kurang,” tandas dr Handry.

Triawati Prihatsari Purwanto

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :