Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Suara Parpol Islam Sengaja Dipecah

Kamis, 25/03/2010 09:00 WIB - tam

GILINGAN—Perpecahan pada internal partai menjelang Pilkada, saat ini mengancam beberapa partai politik, termasuk Parpol berbasis Islam di Kota Solo. Fenomena itu, diyakini pengamat politik UNS, Supriyadi SN SU, sebagai hal yang wajar dan bersifat sesaat saja.
Pasalnya pada tubuh partai-partai politik di Kota Solo tersebut dihinggapi beragam kepentingan di dalam partainya. “Saya yakin ini hanya akan bersifat sesaat, pada pesta Pilkada ini saja dan tidak akan menjalar hingga ke masa mendatang Parpol-parpol itu,” tandasnya saat dihubungi Joglosemar, Rabu (24/3) malam.
Secara politik, perpecahan atau perbedaan pendapat dalam suatu partai memang hal yang wajar dan tidak perlu dirisaukan. “Tetapi memang akan menimbulkan kesan kurang baik pada partai tersebut, kok suara internal partai saja bisa pecah,” tuturnya.
Kepentingan sesaat, berupa upaya memecah suara pendukung antarcalon walikota, dinilai menjadi salah satu pemicunya. “Ini bukan bentuk penjegalan. Tetapi memang upaya memecah suara karena perbedaan-perbedaan pendapat dalam partai itu biasa. Itu yang dimanfaatkan,” jelas Supriyadi yang juga Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNS ini.
Saat disinggung mengenai tren perpecahan internal Parpol sedang menggejala di Parpol-parpol berbasis massa umat Islam, dirinya menerangkan, hal itu tidak lepas dari ketergantungannya Parpol-parpol berbasis Islam pada sosok figur di internal partai mereka.
Partai Kader
Ia mencontohkan pada PAN yang sangat bergantung pada sosok Amien Rais yang bertindak sebagai Majelis Pertimbangan Partai (MPP) PAN. Bahkan dia menganologikan sosok Amien Rais, ibarat sosok almarhum Gus Dur di tubuh NU atau PKB.
Sementara itu, meski PKS kondang dengan partai kader, tetapi di Solo kondisinya ternyata masih tetap tidak bisa lepas dari arus bawah mereka yang mempertimbangkan persoalan historis dan budaya Kota Solo.
“Solo mempunyai basis politik klasik yang kuat, dimana ini selalu saja bertentangan dengan basis politik Islami dan nasionalis,” tambahnya. Dan calon Walikota Wirabhumi, dinilainya sebagai figur yang mewakili basis politik klasik model keraton. (tam)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :