SOLO—Sebanyak 50 anggota Front Pemberlawanan Penculikan Surakarta, diberangkatkan ke Surabaya, Sabtu (27/3) untuk menentang Kongres International Lesbian, Gay, Bisexual, Transgender dan Intersex Association (ILGA) .
Ke-50 orang tersebut akan bergabung dengan Forum Umat Islam (FUI) Jawa Timur untuk membubarkan kongres ILGA. Koordinator Front Pemberlawanan Penculikan Surakarta, Kholid Syaifullah menyatakan, pihaknya menolak konferensi tersebut. ”Kami menolak tegas keberadaan Konferensi Gay yang diadakan di Surabaya. Ini lantaran bertentangan dengan falsafah bangsa Indonesia. Untuk itu, kami telah mengirimkan 50 anggota kami ke Surabaya,” kata Kholid Syaifullah kepada wartawan, Sabtu (27/3).
Menurut dia, kalau aparat negara tak bisa bertindak, maka mereka akan mengambil alih. ”Kami akan meneliti lagi apakah kegiatan itu benar-benar ada. Jika memang itu ada, maka kami akan bertindak. Entah dibilang ini melanggar HAM atau apa,” terangnya.
Kendati demikian, pembubaran itu diakuinya bakal berhadapan dengan hukum. ”Ini yang masih menjadi analisis kami. Mereka pastinya memiliki izin dari pihak berwajib, jadi kalau secara hukum kami memang tak dibenarkan melakukan penolakan. Tapi ini bukan masalah hukum, ini lebih menjurus pada pengkhianatan falsafah bangsa Indonesia,” paparnya.
”Dalam agama kami, gay, lesbian atau homoseksual, biseksual itu tak ada. Kalaupun ada itu adalah kemungkaran. Apalagi kalau mereka telah dengan nyata menyatakan “ini lho gue”. Ini sudah kami anggap sebagai sebuah hal yang salah,” tandasnya.
Sementara itu, Kongres (ILGA) dibatalkan secara paksa oleh Forum Umat Islam (FUI) Jawa Timur. Hal itu diprotes keras aktivis LSM perempuan.
”Kami mengecam kepolisian yang sejak awal menghalang-halangi dengan memberikan izin bagi penyampaian hak berkumpul dan berorganisasi bagi kawan-kawan ILGA Surabaya,” kata juru bicara LSM Perempuan Mahardika Vivi Widyawati dalam rilisnya, Sabtu (27/3).
”Dan akhirnya berlanjut dengan membiarkan hingga penyerbuan, pemukulan dan pembubaran paksa terhadap Gathering ILGA di depan mata pihak kepolisian,” imbuh Vivi.
Vivi mengatakan, apa yang dialami oleh peserta kongres ILGA ini merupakan bukti nyata bahwa pemerintah SBY-Boediono, parlemen dan elite-elite politik tidak sanggup memberikan perlindungan terhadap kaum minoritas. (mur/dtc)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




