Persis, kesebelasan yang sangat dicintai publik Solo, kemarin menelan pil pahit karena harus terdegradasi dari Liga Utama Indonesia. Kemerosotan posisi diterima setelah serangkaian panjang kekalahan demi kekalahan menimpa laskar bola besutan pelatih Isman Jasulmei itu. Kemarin, ketika menghadapi tim Persidafon Sorong di Stadion Manahan Solo, Persis kembali takluk dengan skor 0-2.
Musibah itu mungkin sesuatu yang tidak terlalu aneh. Sebagai skuad yang harus bertarung di lapangan hijau, awak-awak Persis tak difasilitasi dengan baik. Sejak dua tahun terakhir, krisis keuangan membuat mereka megap-megap. Beberapa personel pun pergi. Yang lain bertahan dengan gaji yang dibayarkan tertunda.
Namun, November 2009 lalu Persis telah membuat keputusan untuk tetap berlaga di Liga Utama Indonesia. Keputusan ini tentu merupakan langkah berani mengingat kondisi yang tidak mendukung. Dan jika akhirnya berakhir seperti sekarang, mungkin kita semua harus memahami dan menerima dengan legawa.
Patut menjadi catatan, terpuruknya Persis ternyata telah membuktikan jiwa sportivitas penggemarnya yang bernaung di bawah bendera Pasoepati. Dukungan moril dan dukungan konkret terus mengalir melalui banyak cara. Dan aksi kekerasan yang selama ini identik dengan dunia sepakbola di Indonesia, bisa dibilang tidak pernah terjadi. Bahkan, ketika pekan lalu Pasoepati terpaksa “menonton” dari luar lapangan, karena Persis harus bermain tanpa suporter, Pasoepati masih bisa menahan diri.
Semangat seperti itu, sebenarnya merupakan modal yang diperlukan pemerintah mana pun untuk membangun sebuah kota. Pasoepati merupakan energi positif yang jika ditata dan disalurkan dengan tepat, pasti akan memberi kontribusi yang besar bagi Solo. Apalagi, Pasoepati juga sepertinya tidak mau digiring ke kanal-kanal kepentingan sempit seperti politik.
Dan tentang Persis, selayaknya Pemerintah Kota Solo mulai memikirkan untuk berbenah. Harus ada penyegaran di bidang organisasi dan sumber dana yang lebih jelas. Pemain dan pelatih bisa saja dipertahankan. Tetapi tim pendukung yang dipilih dari orang-orang yang memang ingin memajukan sepak bola. Mungkin sedikit mahal, tapi menciptakan publik masyarakat berkualitas mensana in corpore sano memang butuh sesuatu yang berasal dari pepatah lokal dan sudah tua, yakni jer basuki mawa bea. (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




