Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Solo, (Bukan) Lahan Teroris

Jumat, 19/03/2010 09:00 WIB -

Dalam beberapa pekan ini, nama Kota Solo dan sekitarnya gempar karena disebut sebagai salah satu basis para teroris yang kini diburu Densus 88. Entah benar atau tidak, namun fakta bahwa, beberapa nama yang masuk dalam daftar teroris versi Densus 88 memang berasal dari Solo dan sekitarnya.
Sebut saja nama Air Setiawan yang sudah tewas di Jatiasih dan Pandu Wicaksono yang masuk dalam daftar pencarian orang (DPO). Tak jauh dari Solo, di Klaten muncul nama Maruto. Belum lagi anggota keluarga para teroris yang tetap dalam pengawasan polisi, sebagian besar tinggal di Solo, Klaten, Sukoharjo, dan  Boyolali. Benarkah, Kota Solo dan sekitarnya ini menjadi lahan benih-benih teroris?
Banyak alasan untuk membantah Solo diklaim sebagai lahan benih-benih teroris. Semua orang mengenal Kota Solo sebagai ikon kota budaya nasional. Ada beberapa entitas budaya yang menguatkan klaim Solo sebagai Kota Budaya. Ada Keraton Surakarta, Pura Mangkunegaran, festival budaya terkenal, beberapa benda cagar budaya dan lain-lain. Semua identik dengan wajah multikultural, jauh dari aura gerakan ekstrem yang mengatasnamakan agama tertentu.
Namun, fakta-fakta mencengangkan yang sulit dibantah terkait singgahnya beberapa teroris tetap menjadi catatan sejarah. Sebuah catatan yang tetap menorehkan keterkaitan Solo dan teroris. Setidaknya, ada fakta-fakta beberapa teroris dan DPO yang disebutkan di atas memang dari Solo. Kemudian, beberapa nama teroris yang paling diburu juga tewas di Solo, sebut saja misalnya, nama Noordin M Top dan jaringannya yang tewas di Mojosongo, Solo.
Beberapa analis teroris sepakat, bahwa suburnya jaringan teroris tak lepas dari kuatnya dogma dan doktrin para perekrutnya. Dari analisis itu, sebenarnya bisa untuk memberangus doktrin teroris, termasuk yang kemungkinan tumbuh subur di Solo dan sekitarnya. Caranya, dengan menuntut aktifnya para tokoh keagamaan untuk menetralisasi dogma-dogma teror yang meracuni otak para generasi muda. Pelurusan ajaran agama yang menebarkan rahmat dan perdamaian perlu disuarakan kembali.
Dengan cara itu, bisa diharapkan, Kota Solo dan sekitarnya, bahkan semua wilayah di Tanah Air bisa bebas dari sepak terjang para teroris. Bagaimana pun, semua pihak tetap menginginkan Solo dan sekitarnya, bukan lahan teroris lagi. (***)

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :