JAKARTA—Presiden Susilo Bambang Yudhoyono diibaratkan seperti melempar handuk, karena tidak tahu soal pengadaan mobil bagi para pejabat negara, seperti yang dikatakan Juru Bicara Kepresidenan Julian Aldrian Pasha.
“Tidak benar kalau begitu. Artinya, koordinasi internal tidak beres. Tidak bisa begitu bermasalah lalu lempar handuk (menyerah). Bagaimanapun keputusan muncul dari eksekutif,” ucap pengamat politik Boni Hargens, Rabu (6/1).
Menurut dia, sikap tersebut bukanlah karakter seorang pemimpin. Dia mengimbau, sebaiknya SBY tidak perlu banyak berkomentar terkait pengadaan mobil dinas ini melainkan lebih baik memanggil pihak terkait untuk kemudian melakukan koordinasi internal.
“Kalau tidak setuju, bisa ditarik kembali mobil itu. Nggak perlu mobil mewah, karena ini muncul saat masyarakat masih susah. Masyarakat yang bertahun-tahun menggunakan kereta api dengan kondisi mengenaskan saja tidak mengeluh,” tandas dia.
Untuk itu, dia menyarankan sebaiknya para pejabat negara yang kebagian jatah mobil mewah berlabel Toyota Crown Royal Saloon itu mengembalikan pada negara. “Pakai yang paling sederhana saja seperti Kijang, Xenia atau Avanza,” pungkasnya.
Terpisah, politisi PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo mendesak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengklarifikasi secara langsung pengadaan mobil dinas baru para menteri. Tjahjo menyayangkan sikap cuek Yudhoyono yang mengaku tak tahu menahu soal kehadiran mobil mewah tersebut.
Senada dengan Tjahjo, anggota Komisi Hukum DPR Akbar Faizal juga menyayangkan sikap Presiden. Baginya, kepala pemerintahan semestinya bersikap arif dan bijaksana dalam melaksanakan tugas. Ketidaktahuan Yudhoyono, sambung politisi Hanura ini bisa merusak citra Presiden sebagai pemegang mandat rakyat. (oke)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







