SOLO—Selama ini dosen cenderung menjadi sumber belajar utama dalam proses belajar mengajar. Mahasiswa seolah disuapi berbagai teori akademik di perguruan tinggi. Sehingga diperlukan sebuah pola baru dalam pembelajaran konstruktif. Demikian terungkap dalam seminar internasional, Instructional Strategy In Higher Education di Sahid Jaya Hotel, Sabtu (27/3).
“Selama ini kegiatan belajar hanya ditandai dengan intensitas kehadiran mahasiswa di dalam kelas saja,” tutur Pakar pendidikan dari Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Prof Yusufhadi Miarso MSc dalam seminarnya. Menurutnya, selama ini mata kuliah masih belum mampu mengintegrasikan dan menerapkan lintas disiplin.
Lebih lanjut ia mengungkapkan, strategi pembelajaran konstruktif memiliki beberapa prinsip. Di antaranya adalah dalam proses pembelajaran mahasiswa dituntut untuk memberi makna atas suatu peristiwa untuk merangsang olah pikir mereka. “Setelah itu, mahasiswa dituntut untuk merefleksikan pemaknaan tersebut, baik dengan pikiran sendiri maupun pemikiran kolektif,” jelas Yusufhadi.
Dengan strategi pembelajaran konstruktif, mahasiswa diberi kesempatan untuk menemukan prinsip ilmiah berdasarkan pengalaman dan pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya. “Sehingga mahasiswa akan lebih merasa dihargai usaha dan pemikirannya, baik perorangan maupun kelompok. Untuk kemudian dilakukan penilaian otentik, seperti portofolio, rubrik, dan sebagainya,” ungkapnya.
Sementara itu, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan dan Keguruan (FKIP) Universitas Sebelas Maret (UNS), Prof Dr M Furqon Hidayatullah MPd menggagas bahwa proses pembelajaran tidak cukup sekadar mentransfer ilmu yang bersifat kognitif, namun dibutuhkan passion pengajar. Sehingga seorang pendidik juga dituntut untuk dapat menyertakan semangat, gairah, perhatian sampai kesabarannya selama proses pembelajaran.
“Seorang pendidik yang ingin mengajar dan mendidik dengan berhasil harus mampu membawa pembelajaran dengan menghadirkan jiwanya,” tuturnya. Strategi pembelajaran dengan menggunakan hati ini sangat penting. Karena menurutnya, hati memiliki serangkaian fungsi positif dalam jiwa manusia. Di antaranya, nilai (value), pendorong (driving), makna (meaning) dan sumber kearifan (wisdom).
Ia menambahkan, kepandaian pendidik dalam memahami perasaan dan keinginan peserta didik dapat menjadikan suasana kelas menjadi lebih hidup dan dinamis. “Kesempatan lebih besar yang diberikan pendidik untuk terlibat dalam proses pembelajaran menyebabkan peserta didik lebih merasa dihargai dan merasa ikut memiliki,” ungkapnya. (ris)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




