Lelaki yang sudah enam puluh enam tahun hidup itu, dari bibirnya yang kemerah-merahan selalu keluar kata-kata yang mengagumkan, penuh semangat, tapi sering memilukan. Jika Anda selalu menyimak apa yang lelaki itu katakan, pasti Anda akan tahu bahwa dia tidak hanya pandai memberi argumen terhadap suatu masalah, tapi juga pandai mengeluh minta dikasihani oleh warga, oleh masyarakat, oleh rakyat dan bahkan oleh dunia. Aku sering bertanya-tanya, kenapa dia seperti itu? Apa yang kurang darinya? Aku kadang tidak suka mendengar keluhan, dan mungkin juga Anda.
Padahal, dia tidak kurang apa-apa. Dia sudah menjadi orang nomor satu di negara ini. Semua orang menaruh hormat kepadanya. Semua ingin mendengarkan perkataannya, karena setiap kali dia mengatakan sesuatu, pasti dikatakan dengan tegas, lugas, meski kadang timbul banyak tafsir atau pertanyaan dari apa yang dikatakan. Yang paling menjengkelkan diriku pada saat ini adalah keluhannya.
Meski demikian, kudengarkan saja apa yang dia katakan. Karena memang pantas untuk didengarkan, meski kadang merasa terpaksa untuk mendengarkannya pada saat ini. Awalnya aku tidak merasa terpaksa untuk mendengarkan apa yang dia katakan. Aku sangat suka dengan perkataannya. Aku merasa iba, aku merasa kasihan dengan yang dikeluhkan. Dia seolah seperti diriku yang juga sering mengeluh akibat kekejaman seseorang yang tidak bisa aku lawan. Karena itu, aku seolah menemukan teman yang sama-sama suka mengeluh. Aku merepresentasikan dia sebagai diriku yang juga tersakiti.
Aku dan kawan-kawanku dan sebagian banyak masyarakat yang bangga dengannya, (meskipun juga ada masyarakat yang pesimis dengan dia) seolah-olah menemukan figur baru untuk merubah dan membawa negeri ini ke negeri yang diidam-idamkan, yaitu negeri yang damai, negeri yang demokratis, negeri yang bebas dari penguasa otoriter yang tidak membela kepentingan rakyat, dan negeri yang bebas dari korupsi.
Apa yang kami idam-idamkan itu selalu dia katakan dalam mimbar-mimbar pidatonya yang sesekali dia tidak lupa untuk menyelipkan keluhannya selain harapan yang manis dan indah itu. Keyakinan kami semakin bulat akan kehadiran tokoh baru untuk memimpin negeri ini kepadanya. Kami sangat yakin dia akan membawa perubahan di negeri ini, kearah yang lebih baik. Kami tidak pesimis seperti yang sedikit dikeluhkan oleh masyarakat. Keyakinan kami itu, kemudian kami buktikan dalam pemilihan pemimpin baru. Ya, kami memilihnya dalam pemilihan pemimpin baru negeri ini, yang membuat dia betul-betul terpilih menjadi seorang nomor satu di negeri ini. Atau lebih pasnya dia menjadi seorang presiden.
Dia terpilih menjadi seorang presiden dengan mutlak. Meski pemilihan itu dia lewati dua kali. Karena pada waktu itu calon presidennya terbilang banyak, lebih dari tiga pasang. Aku dan kawan-kawan ikut bahagia dengan terpilihnya. Kami menaruh harapan besar akan perubahan yang lebih baik. Dan aku yakin ketika menyimak sambutannya dan pidato politiknya ketika dia terpilih menjadi presiden dia akan betul-betul membawa perubahan kearah yang lebih baik di negeri ini. Seperi yang kukatakan tadi, dia cukup pandai beretorika. Ketika dia memberi sambutan atau pidato politiknya di depan seluruh anggota perwakilan rakyat dan tersiar langsung melalui televisi dan berbagai macam media keseluruh rakyat Indonesia dan dunia, dia tidak memakai teks. Katanya-katanya mengalir dengan tenang dan mantap seiring dengan sikapnya yang tenang dan percaya diri.
Isi pidatonya yang begitu menakjubkan, meskipun sedikit sama dengan pidato-pidato para politikus yang cenderung memberikan harapan dan janji terhadap rakyatnya, dan ada yang normatif pula, namun ada yang baru dalam pidato itu. Dia berkomitmen dalam waktu singkat yaitu kira-kira seratus hari dia akan mengadakan gebrakan awal atau membersihkan kotoran-kotoran yang memacetkan perjalanan bangsa ini. Antara lain dia ingin mereformasi pemerintahan yang sesuai dengan kehendak rakyat dan yang paling utama dia ingin memberantas korupsi sampai keakar-akarnya. Sunguh menakjubakan pidatonya karena dalam waktu yang dekat dia akan membuat Indonesia berubah kearah yang lebih baik.
Saya dan kawan-kawan menungu-nunggu dengan harap-harap cemas apa yang dia lontarkan ketika pertama kali terpilih menjadi presiden, meskipun kami yakin dengan kemampuan dan kecerdasannya. Namun setelah beberapa hari dari masa kepemimpinannya yang tidak menunjukkan perubahan yang berarti kami menjadi sangat cemas. Tapi dengan pandai dia juga menghilangkan rasa cemas kami.
Selang setengah tahun kemudian dari terpilihnya dia jadi presiden, aku dan kawan-kawan kini tidak melihat lagi semangat juangnya dalam memberantas korupsi dalam waktu dekat seperti waktu dikomitmenkan olehnya ketika sebelum dan terpilih jadi presiden. Alasannya, karena masih banyak para pejabat yang terkait dengan kasus korupsi masih berkeliaran dengan nyaman di negeri ini alias tidak ditangkap dan diadili. Tapi keraguan kami itu terhadap semangatnya untuk memberantas korupsi dihilangkan oleh teman-temannya yang menjadi stafnya di pemerintahan. Teman-temannya mengatakan, bahwa dalam merubah negeri ini kearah yang lebih baik tidak cukup hanya dengan waktu yang singkat, tapi membutuhkan waktu yang cukup lama.
Aku berusaha bersabar, berbulan-bulan aku tetap sabar, meski aku melihat tiada perubahan yang cukup berarti di negeri ini. Pada akhirnya, kira-kira tiga tahun kemudian, aku melihat komitmen untuk memberantas korupsi itu. Lembaga pembarantasan korupsi, menangkap beberapa pelaku korupsi, termasuk orang yang punya wewenang dalam memutuskan perkara di pengadilan yang tersangkut paut dengan korupsi juga ditangkap. Aku sedikit bangga karena sudah ada pelaku korupsi yang ditangkap. Tapi, kebanggaan masih belum cukup besar, karena kebanyakan para koruptor kelas kakap belum semuanya ditangkap. Yang mereka tangkap hanya para koruptor kelas teri.
Di saat masa bakti jabatan presidennya hampir selesai, si pengeluh yang sudah lama jadi presiden ini kembali mengeluh kepada rakyatnya. Seiring dengan adanya teroris yang mengebom dua tempat penginapan yang cukup indah dan mewah di kota. Biasanya tempat penginapan itu suka ditempati orang-orang asing atau turis yang datang ke negara ini untuk melihat-lihat keindahan negara ini, atau keterbelakangan negara ini. Bertepatan dengan pengeboman itu, si pengeluh kemudian mengeluh lagi kepada rakyatnya bahwa dirinya termasuk salah satu sasaran yang akan di bunuh oleh teroris. Dia menunjukkan beberapa foto yang mengancam dirinya yang dia dapat dari intelijen. Aku kasihan dengan keluhan itu. Aku geram terhadap orang yang mengancam keselamatannya.
Pihak kepolisian kemudian dengan cepat bertindak untuk menangkap pelaku pengeboman itu. Sebelum masa si pengeluh jadi presiden ini berakhir, dan sebelum pemilihan presiden yang kedua berlangsung. Para teroris sudah bisa harus dipastikan semuanya tertangkap dan ditumpas, sehingga nanti tidak terjadi lagi pengeboman untuk yang kesekian kalinya yang telah dilakukan oleh teroris kepada bangsa ini. Betul, sebelum jabatannya berakhir, berita di beberapa stasiun televisi menayangkan bahwa semua sarang teroris telah selesai di geledah, dan pelaku utama yang menjadi otak pengeboman sudah mati pada saat digrebek tempat tinggalnya karena melawan. Aku senang mendengar semua itu.
Kini, masa jabatan si pengeluh yang jadi presiden sudah berakhir. Tapi, dia kembali mencalonkan diri untuk menjadi presiden yang keduan kalinya. Lagi-lagi, permainan politiknya cukup bagus. Dia mampu menampilkan sisi-sisi baik yang pernah diraih ketika menjabat presiden. Dibandingkan dengan presiden sebelum dia, memang kelihatan lebih baik. Dia telah menjalankan program yang belum dijalankan oleh para presiden sebelumnya. Program-program yang baru dan terlaksana meski tidak semuanya memuaskan, yakni dengan membantu langsung rakyat kecil dengan bantuan langsung diberikan pada rakyat kecil.
Tebersit dalam benakku sebuah pertanyaan, apakah dia akan mampu memberantas korupsi sampai keakar-akarnya pada masa kepemimpinannya yang kedua ini? Aku merasa optimis karena aku punya keyakinan bahwa jabatan presiden yang kedua kalinya ini akan lebih baik, sebab inilah kesempatan yang terakhir untuk membuat kenangan yang cukup baik buat rakyat. Pasti dia ingin pemerintahannya lebih baik ketimbang yang pertama kali. Kesempatan yang kedua kali untuk menjabat sebagai presiden dan yang terakhir inilah waktu yang tepat bagi dia untuk menunjukkan bahwa dia memang betul-betul orang yang mampu dan lebih baik lagi mengemban tugas jadi presiden.
Namun, harapan besar itu seolah ditelan angin besar yang mau menghapus kejelekannya. Tak lama dari pengangkatan dirinya yang jadi presiden untuk kedua kalinya, ternyata kelompoknya tersandung kasus korupsi. Komitmennya untuk menghapus kejahatan korupsi kembali dipertanyakan oleh rakyat. Dia kemudian dianggab sebagai orang yang plin-plan, tidak tegas, lamban, dan hanya pintar bicara. Kepercayaan rakyat kepada dia semakin menyusut, seiring dengan menyusutnya dia akan komitmennya untuk menghapus korupsi. Akan tetapi, karena dia pandai mengeluh, kemudian dia mengeluh lagi pada rakyat, bahwa korupsi yang dituduhkan kepada kelompok pendukungnya merupakan fitnah dan sebuah upaya untuk menggulingkan kekuasaannya. Dia mengeluh untuk mendapat kasihan dari rakyat dan mengalihkan tuduhan rakyat akan korupsi yang dituduhkan ke kelompoknya kepada orang yang telah memfitnahnya yakni orang-orang yang mau merebut kekuasaannya.
Akhirnya, aku bersama kawan-kawanku dan sebagian rakyat memutuskan untuk turun jalan meminta pertanggungjawaban presiden akan komitmennya untuk memberantas korupsi. Ketika berita turun jalan ini menyebar, dan sampai ketelinga presiden, lagi-lagi presiden mengeluh dan menuduh bahwa kemauan rakyat yang mau turun jalan untuk mendemonstrasi dirinya sebenarnya telah ditunggangi oleh orang-orang yang mau menggulingkan kekuasaannya, dan dia merasa khawatir akan terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Padahal, ketika aku dan rakyat turun ke jalan menuntut komitmen presiden untuk memberantas korupsi, rakyat ternyata lebih bijak. Rakyat dengan teratur turun jalan dan tidak membuat kerusuhan, seperti beradu mulut atau fisik dengan pihak keamanan demi terlaksananya tuntutan pemberantasan korupsi. Mungkin itu adalah hasil dari keluhan presiden sebelum rakyat turun jalan, bahwa keinginan rakyat turun jalan telah ditunggangi orang-orang yang mau melengserkan kekuasaannya, sehingga tidak menutup kemungkinan akan terjadi kerusuhan.
“Dasar pengeluh ulung”. Umpatku dalam hati.
Aku jadi kasihan sama si pengeluh, mengerti, namun juga kesal.
Penulis: penggiat sastra,
aktif di studi sastra dan filsafat
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




