Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Shock Therapy buat Mahasiswa!

Senin, 15/03/2010 09:00 WIB - dondee/eny

Remidi atau Ujian Susulan merupakan cara mahasiswa dalam memperbaiki nilai yang telah didapat agar menjadi lebih baik dan mampu meningkatkan Indeks Prestasi (IP). Namun, apa jadinya jika remidi atau ujian susulan ini mahasiswa diwajibkan membayar dengan biaya yang lebih mahal dari biasanya?
Tentu berbagai pertanyaan akan muncul di benak kita ketika mengetahui jika mahasiswa harus membayar lagi, bahkan lebih mahal dari biasanya untuk bisa ikut remidi atau ujian susulan. Mulai dari mengapa ini bisa terjadi dan untuk alasan apa sebenarnya remidi harus membayar? Hingga pertanyaan ke mana uang tersebut dialokasikan. Apa kira-kira pendapat mahasiswa mengenai hal ini?
 Mahasiswa Jurusan Ekonomi Pembangunan, Universitas Sebelas Maret (UNS), Andariska Nur Wulandari (20), mengaku cukup kaget dengan adanya kewajiban mahasiswa harus membayar untuk bisa mengikuti remidi atau ujian susulan.
“Kenapa harus membayar lagi? Ini jelas memberatkan mahasiswa. Saya nggak setuju kalau remidi atau ujian susulan, mahasiswa harus mengeluarkan uang lagi. Apalagi, saat ini biaya kuliah semakin mahal,” katanya.
Hal senada diungkapkan mahasiswi Fakultas Pertanian UNS, Dwi Wahyuni (19). menurutnya, adanya remidi atau ujian susulan memang dibutuhkan oleh mahasiswa dan membantu mahasiswa untuk bisa lulus tepat waktu. Namun, jika mahasiswa harus mengeluarkan uang untuk bisa mengikuti remidi atau ujian susulan, menurutnya itu akan memberatkan mahasiswa. 
“Tidak munafik remidi atau ujian susulan sangat membantu mahasiswa. Kita jadi tidak harus mengulang semester depan atau bahkan tahun depan untuk mengambil mata kuliah yang kita gagal. Tapi, saya sangat tidak sepakat jika mahasiswa harus membayar lagi untuk ikut remidi atau ujian susulan. Apalagi, kalau mahasiswa harus membayar mahal untuk itu. Saya jelas tidak sepakat,” katanya.  
Sementara itu, mahasiswa Jurusan Sistem Informasi STMIK Adi Unggul Bhirawa (AUB) Surakarta, Gawang Setyawan (21) juga mengungkapkan ketidaksepakatannya terkait adanya pembayaran yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa untuk bisa ikut dalam remidi atau ujian susulan. Ia mengajak mahasiswa mengkritisi permasalahan ini.
Shock Therapy
“Jelas memberatkan mahasiswalah kalau mahasiswa harus membayar untuk ikut dalam ujian susulan atau remidi, apalagi mahasiswa yang kurang mampu. Ini harus dikritisi sehingga masalah ini tidak muncul dan tidak ada lagi pemanfaatan kesempatan dari dosen untuk mencari penghasilan tambahan dari mahasiswa,” katanya.
Terpisah, Dosen Ilmu Administrasi Negara Universitas Slamet Riyadi (Unisri), Dra Damayanti Suhita Msi, mengungkapkan, adanya ketentuan mahasiswa harus membayar lebih mahal untuk bisa ikut ujian susulan atau remidi merupakan upaya dari universitas untuk memberikan semacam shock theraphy kepada mahasiswa agar mahasiswa bisa lebih niat dalam menjalankan kuliahnya.
“Di samping menata kedisiplinan mahasiswa, hal ini juga dapat menghindarkan tanggapan buruk (meremehkan-red) mahasiswa terhadap mata kuliah yang dianggap bukan prioritas utama di dalam bidangnya,” katanya.
Remidi atau ujian susulan memang menjadi permasalahan yang sebenarnya terus berulang bagi mahasiswa di setiap akhir semester. Hal ini terkadang membuat mahasiswa menganggap enteng kuliah karena mereka bisa mengulang atau ikut ujian susulan.
Adanya biaya yang harus dikeluarkan oleh mahasiswa yang jumlahnya lebih besar dari biaya per Sistem Kredit Semester (SKS) mungkin bisa menjadi semacam shock Theraphy bagi mahasiswa agar tidak menganggap enteng materi perkuliahan dan bisa kuliah sebagaimana mestinya. Tetapi, apakah ini benar bisa menjadi solusi ampuh dan mampu membuat mahasiswa menjadi jera dan bisa kuliah dengan benar? (dondee/eny)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :