LAWEYAN— Para juru parkir dan sopir taksi di kawasan parkir Solo Square menolak pembangunan shelter Batik Solo Trans (BST) di area jalur lambat depan Solo Square. Pasalnya pembangunan shelter itu akan memangkas rezeki mereka dan mengakibatkan kemacetan yang lebih parah.
Ketua Paguyuban Parkir Putra Tingkir, depan Solo Square, Kurniawan (23) mengatakan, pengelolaan parkir itu sebelumnya ditenderkan Pemerintah Kota (Pemkot) Surakarta ke pihak ketiga. Dan pihak ketiga itu yang menyuruhnya untuk menangani perparkiran tersebut bersama dengan 15 juru parkir (Jukir) lainnya.
“Tetapi kok tanpa diajak bicara dan tanpa ada sosialisasi, tiba-tiba di sini akan dibangun shelter BST. Jelas kami keberatan. Apalagi shelter akan memangkas lahan parkir kami sekitar 2 shaf. Padahal 2 shaf jalur parkir itu tiap harinya bisa menghasilkan Rp 500.000. Kalau total 3 shaf bisa mencapai Rp 900.000. Belum kalau malam minggu bisa mencapai Rp 1,2 juta hingga Rp 1,3 juta,” terangnya kepada wartawan, Jumat (11/6).
Dari pantauan Joglosemar, setidaknya tiang pancang untuk fondasi shelter telah dipasang tak jauh dari lahan parkir tersebut. Jadi, tambah Kurniawan, kalau lahan parkir dikepras sebanyak 2 shaf, ditambah keberadaan parkir taksi dan shelter, dipastikan semakin membikin macet dan semrawut. “Sekarang sudah adem ayem. Tetapi kalau ada shelter di sini, podo wae tukang parkir diadu karo sopir taksi (sama saja, tukang parkir diadu dengan sopir taksi, red),” tuturnya.
Ditambahkan, jika lahan parkir dikurangi, pasti berdampak dengan pengurangan Jukir, dan mereka akan menganggur. “Padahal parkir ini pekerjaan pokok kami. Kami kerja dari pukul 8.00 pagi hingga pukul 20.00 WIB. Setiap hari saja kami juga setor ke Pemkot Rp 85.000,” tegasnya.
Senada, keluhan kemacetan diakui Esdovika Abdul, Supir Taksi Bengawan. Dirinya memastikan akan terjadi kemacetan di kawasan tersebut, bila shelter BST tetap dibangun. Selain itu taksi akan kerepotan saat menurunkan dan menaikkan penumpang akibat kemacetan itu.
Menanggapi hal itu, Taufiq Muhammad, Staf Bidang Angkutan Dinas Perhubungan Kota Solo mengatakan, lokasi pembangunan shelter di depan Solo Square sejauh ini masih menjadi kajian. Sebab pihak Dishub sendiri mempunyai 2 alternatif lokasi, yakni di tengah jalur lambat depan Solo Square atau menyatu dengan sub terminal Kerten tepatnya di depan Kampus FKIP UNS.
“Dua alternatif itu belum diputuskan, kemungkinan minggu depan atau Senin, apalagi kita juga dikejar waktu. Persentase untuk lokasi shelter lebih besar memang di depan UNS. Tetapi itu harus berkoordinasi dengan pihak UNS,” terangnya.
Dari 24 shelter, setidaknya telah ada 2 shelter yang sudah selesai dibangun yakni di depan BNI Gladak dan Purwosari sebelah selatan. Sementara sejak, Jumat (11/6) telah dibangun 5 rangka shelter yakni di depan UNS Kentingan (2 shelter), Jalan Ir Sutami depan Indomoto (1 shelter), Pasar Gede (1) dan depan Solo Square (1). (qds)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







