Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Setelah Lulus SMA ke Mana?

Minggu, 26/02/2012 06:00 WIB -

Saat ini, para siswa kelas 3 SMA mulai memikirkan kelanjutan pendidikannya.  Begitu juga dengan orangtua siswa. Tidak sedikit antara orangtua dan anak yang konflik akibat pilihan siswa berbeda dengan pilihan si anak.
Langkah pertama dalam proses pemilihan kelanjutan pendidikan tersebut adalah orangtua dan anak menyamakan persepsi lebih dahulu mengenai apa dasar yang paling penting dalam pemilihan kelanjutan pendidikan. Dasar pemilihan kelanjutan pendidikan yang paling penting adalah kesesuaian antara bakat (talents) dan minat (passion) dengan jurusan atau program studi yang akan dipilih.
Hasil penelitian Stanley menunjukkan bahwa 81 persen dari 733 pengusaha dan profesional sukses memilih profesi, karier, atau usaha yang memungkinkan penggunaan bakat atau potensi mereka sepenuhnya. Sementara menurut ahli psikologi bisnis Butler & Waldroop yang mengatakan bahwa,” Jika Anda mengubah bakat menjadi aktivitas bisnis atau profesi, maka Anda telah menemukan jenis bisnis atau profesi terbaik.”
Setelah ada persamaan persepsi mengenai dasar pemilihan kelanjutan pendidikan tersebut, maka langkah kedua adalah orangtua dan anak berusaha semaksimal mungkin untuk mengenali apa bakat dan minat si anak. Ada yang mudah mengenali bakat dan minat, ada juga yang sangat sulit mengenalinya.
Ada sebuah kasus nyata, di mana kedua orangtua dan anaknya menemui saya. Orangtua si anak, terutama, ibunya, sangat menginginkan agar anaknya kuliah di program studi kedokteran.
Tetapi si anak merasa kurang sreg dengan keinginan orangtua tersebut. Setelah diskusi dengan kami cukup lama, maka akhirnya si orangtua dan anak memiliki persepsi bahwa yang paling penting adalah kesesuaian bakat dan minat si anak dengan pilihan program studi.
Nah, setelah ada kesamaan persepsi barulah si orangtua dan anak berupaya mengenali bakat dan minat si anak. Setelah diskusi lagi, ternyata si anak lebih berbakat dan berminat di jurusan atau program studi arsitek. Kemudian dengan kata-kata yang tulus akhirnya ibu si anak tadi mengatakan, ”Kalau begitu, saya berharap agar menantu saya saja nanti yang dokter…”
Langkah ketiga adalah bahwa yang penting bukan memilih perguruan tinggi mana, tetapi yang dijadikan prioritas pilihan adalah jurusan atau program studi. Karena tidak sedikit para lulusan SMA yang lebih memilih perguruan tinggi daripada jurusan.

 

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :