SOLO—Salah seorang siswa SMK Santo Paulus Solo, batal mengikuti ujian nasional (UN) tanpa surat keterangan resmi. Meski demikian, berdasarkan hasil penelusuran sekolah anak tersebut beserta orangtuanya pergi keluar daerah. “Anak didik kami tersebut bukan karena masalah administrasi sekolah. Masalah ini senyatanya karena masalah keluarga, namun yang kami sayangkan kenapa orangtuanya membawa anaknya pergi tanpa keterangan resmi. Bukannya ini justru merugikan masa depan anak kami tersebut,” ujar Sri Pujiyanti, Kepala SMK Santo Paulus, Selasa (23/3).
Berbagai macam upaya telah dilakukan, dicontohkan Sri seperti menghubungi lewat telepon genggam dan lain-lain. Namun tetap saja hal tersebut tidak digubris pihak keluarga, bahkan Sri telah bersepakat dengan guru-guru setempat untuk mencukupi kebutuhan. “Keinginan kami anaknya itu punya inisiatif untuk kembali lagi ke Solo, masalah kebutuhan dan tempat tinggal kami semua guru sepakat akan membantunya,” ujarnya.
Terpisah, Kepala Bidang Pendidikan Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Surakarta, Radik Karyanto menyebutkan fenomena seperti ini banyak dijumpai dari bawah. “Setiap kali ada pengecekan langsung kepada keadaan orangtua siswa yang mengaku tidak mampu, kami kerap menemukan kasus yang berbanding terbalik. Dalam arti, mereka sebenarnya mampu tak seperti apa yang diakuinya,” tandasnya.
Menurut Radik, bagi siswa di sekolah swasta seharusnya lebih paham dengan kondisi yang di sekolahnya. Bagaimana pola kehidupan mereka di rumah maupun di sekolah. (bns)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




