Keraton Surakarta Hadiningrat sebagai salah satu kiblat kesenian tradisional Jawa yang meliputi tarian, karawitan, macapat, dan seni pedalangan menyatakan siap untuk menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman yang terjadi. Pernyataan tersebut disampaikan GPH Benawa putra SISKS Alm. PB XII, beberapa waktu lalu di Sasana Handrawina Keraton Surakarta.
Benawa menjelaskan pada hakikatnya tiada yang abadi di dunia, kecuali perubahan itu sendiri. Perubahan ini merupakan tuntutan perkembangan zaman, yang di dalamnya termasuk budaya dan seni tradisi itu sendiri. Hanya saja, definisi berubah bukan berarti kehilangan jati diri yang asli. ”Disadari atau tidak keraton di sini juga berfungsi sebagai kiblat sekaligus institusi kebudayaan dan seni tradisi khususnya Jawa. Ini berarti keraton wajib mempertahankan jati diri budaya dan seni tradisi itu, tanpa terkesan anti-perubahan,” ucap Benawa.
Dengan mengetahui jati diri tersebut, Benawa mengungkapkan para budayawan dan seniman baru bisa mengadakan pengembangan. Sebab tanpa pijakan jati diri atau pakem yang jelas, maka pengembangan itu akan terkesan hambar dan justru akan memerosotkan martabat budaya dan seni tradisi itu sendiri. ”Dengan kita mengetahui hasil cipta budaya yang berpijak pada jati diri, baru di sini inovasi bisa dilakukan. Tanpa itu hasilnya pasti tidaklah memuaskan,” tegas Benawa.
Keraton Terbuka
Benawan mengatakan, untuk saat ini sudah banyak tari-tarian, dan gending keraton yang mengalami perkembangan atau garap. Namun itu lebih digunakan sebagai penyempurnaan agar terlihat lebih menarik dan tidak ketinggalan zaman. Keraton pun lebih terbuka dalam menerima kerja sama dengan pihak luar, sebatas tidak melanggar angger-angger pranatan yang ada.
”Contohnya dari sisi tata rias dan kostum. Jika dulu para penari merias dirinya dengan riasan tradisional, setelah muncul tata rias modern maka riasannya pun menjadi beda. Begitu pula dengan durasi waktu, saat ini sudah banyak tarian keraton yang durasinya dipadatkan. Hal ini juga berlaku bagi seni pedalangan itu sendiri,” jelas Benawa yang juga merupakan dalang wayang kulit keraton ini.
Kendati demikian, dia menjelaskan masih ada beberapa tarian keraton yang tidak mengalami perkembangan sama sekali. Terutama bagi tarian yang sifatnya sebagai pelengkap upacara penobatan raja, atau ritual keraton lainnya. ”Seperti tari Bedhaya Ketawang, dari zaman Panembahan Senopati Mataram, hingga sekarang tetap seperti itu adanya. Karena itu berkaitan dengan kehormatan dan spiritualitas budaya keraton,” paparnya.
Di sisi lain, KRMH Satriyo Hadinagoro, petinggi Keraton Surakarta menjelaskan, di dalam tubuh keraton sendiri sudah terbagi beberapa departemen dan di antaranya mengurusi kelangsungan budaya dan seni tradisi itu sendiri. Departemen itulah yang bertugas untuk senantiasa menggelar tradisi di dalam keraton apapun wujudnya. ”Jadi semua ada aturannya dan diawasi langsung oleh Sinuwun,” timpalnya.
Lebih lanjut, Satriyo mengakui adanya beberapa kendala, salah satunya adalah dari sisi biaya. Meski begitu, hal itu tidak mengurangi semangat Keraton Surakarta dalam melestarikan budaya dan seni tradisi. ”Dengan komitmen yang kuat apapun caranya akan kami lakukan asalkan halal. Selain itu untuk sisi SDM pun senantiasa kami beri pembinaan sehingga mampu mengikuti perkembangan zaman,” kata dia. (Deniawan Tommy Chandra Wijaya)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




