Senin (22/3) ini, Ujian Nasional (UN) akan dimulai. Ribuan siswa akan berjuang untuk mendapatkan hasil terbaik agar bisa lulus. UN telah menjadi alat/parameter tunggal untuk menentukan sebuah kelulusan sekolah bagi para siswa. Karena itulah, wajar jika muncul kegelisahan di kalangan para siswa di setiap menjelang pelaksanaan UN. Bahkan kegelisahan tak hanya dialami oleh para siswa, melainkan juga para orangtuanya. Mereka tentu tidak menginginkan anaknya tinggal kelas karena gagal mengerjakan soal-soal ujian nasional tersebut.
Bukan asing bagi kita, UN telah menjadi bahan perdebatan cukup panjang sejak keberadaannya sebagai alat tunggal kelulusan ditetapkan oleh pemerintah. Ada yang pro dan kontra tentang pelaksanaan UN tersebut. Mereka yang tidak setuju menilai kebijakan UN sebagai penentu tunggal kelulusan sebagai sebuah kebijakan diskriminatif dan intimidatif terhadap siswa. Sedang bagi yang sependapat dengan pelaksanaan UN, menyebutnya sebagai sebuah kewajaran jika pemerintah harus memiliki standarisasi yang jelas dalam proses penilaian terhadap anak didik.
Pro dan kontra terhadap pelaksanaan UN terus mengalir. Pemerintah harus bisa menyikapinya secara bijaksana sesuai dengan ranah pendidikan, yakni memperoleh rumusan yang tepat, adil dan berwawasan mendidik. Karena itulah, kalau pemerintah masih akan menggunakan UN sebagai parameter kelulusan maka perlu dipikir ulang format UN yang memiliki wawasan berkeadilan dan bermutu. Harus juga disesuaikan dengan kondisi masing-masing daerah. Soal keinginan untuk menghilangkan UN juga harus didengarkan secara serius dan kemudian diperdebatkan melalui lembaga perdebatan akademik yang serius pula. Intinya adalah mendapatkan rumusan yang terbaik bagi anak didik di seluruh penjuru Nusantara.
Terlepas dari itu semua, alangkah lebih baik jika perdebatan soal pro kontra UN kita hentikan dulu karena bagaimanapun saat ini ribuan siswa tengah berpikir memeras otak dan energi untuk mengerjakan soal-soal UN. Saat ini berilah mereka kenyamanan agar tidak terpecah konsentrasinya dengan pro kontra UN. Fokuskan perhatian kita pada dukungan doa dan empati kepada kerja keras para siswa yang tengah berjuang mengerjakan UN. Semoga mereka mendapatkan hasil terbaik dan lulus UN. (***)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




