Jumat, 25/05/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : harianjoglosemar@gmail.com

Semarak Ritual Qing Ming

Minggu, 28/03/2010 09:00 WIB -

Setiap pekan awal di bulan April, warga Tionghoa ramai-ramai menjalankan ritual Qing Ming atau yang biasa dikenal dengan tradisi nyadran dan berziarah ke makam leluhur secara berjemaah. Bagaimana sejarah qing ming muncul, dan apa saja serba-serbi tentang tradisi Qing Ming, berikut laporan wartawan Joglosemar, Rani Setianingrum.

Bagi warga Tionghoa, tidak ada yang istimewa di awal bulan April selain menggelar ritual Qing Ming. Tradisi unik yang ada sejak ribuan tahun di Tiongkok ini tetap dijalankan warga etnis Tionghoa di Solo hingga sekarang.
Qing Ming merupakan salah satu ritual sembahyang masyarakat Tionghoa untuk mendoakan arwah leluhur. Nyaris sama sebenarnya dengan tradisi masyarakat Jawa, ritual Qing Ming biasa ditandai dengan acara nyadran serta berziarah ke makam. Leluhur, bagi warga Tionghoa diyakni mampu memberikan spirit dalam menapaki hari-hari yang bakal dijalani untuk meraih kesuksesan dalam hidup.
Qing Ming sendiri mempunyai makan sugesti yang bagus bagi masyarakat Tionghoa. Qing memiliki arti cerah sedangkan Ming berarti terang. Sehingga hari Qing Ming adalah hari yang sangat cerah dan terang. Untuk menyambut hari yang baik itu, mereka ramai-ramai mendatangi makam leluhur untuk berziarah.
Ritual Qing Ming biasa dijalankan pada tanggal 4 sampai 5 April.”Semua sama dijalani pada tanggal-tanggal itu, ini ritual penting, jangan heran jika warga dari luar kota berduyun-duyun pulang untuk berziarah ke makam leluhur,” kata Ws Adjie Chandra, tokoh masyarakat Tionghoa di Solo.
Menurutnya, sejarah sembahyang Qing Ming, berkaitan dengan cerita Han Sit Ciat/ Han Shi Jie, yakni kisah hari raya makan dingin. Kisah itu menuturkan tentang seorang menteri yang setia bernama Kai Zhu Chui yang tewas di hutan Bian Shan.

Cerita Dramatis
Cerita ini sangat dramatis. Sebelum Cien Bun Kong menjadi raja, dia menjalani masa perantauan yang sulit. Suatu ketika dalam hutan, pangeran Cien Bun Kong mengidamkan kelezatan daging. Para prajurit berusaha mewujudkan keinginan sang pangeran.  Sayang usaha itu tak berhasil. Dalam keputusasaan, muncul ide gila dari salah seorang prajurit yakni diam-diam rela mengiris daging pahanya sendiri untuk disajikan kepada sang pangeran.
Sejak itu hubungan raja Cien Bun Kong dengan Kai Zhu Chui makin akrab. Sayangnya, hubungan itu tak berlangsung lama, karena muncul fitnah dari pihak-pihak tertentu kepada Kai Zhu Chui. Untuk mengklarifikasi fitnah itu, raja berniat memanggil Kai Zhu Chui ke istana. Namun rasa sakit hati Kai Zhu Chui membuatnya enggan menemui sang raja.
Karena tidak mau menemui sang raja muda itu, akhirnya raja memerintahkan prajuritnya membakar hutan tempat tinggal Kai Zhu Chui. Hutan hangus dan Kai Zhu Chui tewas terjebak kobaran api yang melalap hutan.
”Untuk mengenang dan menghormati Kai Zhu Chui sang raja memerintahkan rakyatnya agar saat Qing Ming tidak menyalakan api, makanan disantap dingin-dingin, hingga dikenallah istilah hari raya makan dingin,” kata Adjie.

Bakar Kertas Tek
Saat menjalankan ritual Qing Ming, warga usai berziarah ramai-ramai membakar kertas tek, yakni kertas yang bertuliskan mantra-mantra China. ”Pembakaran kertas tek ini terkait dengan cerita Cu Gwan Ciang(Zhu Yuanzhang), seorang pria yang berasal dari rakyat jelata,” ujarnya.
Menurutnya, Zhu Yuanzhang ketika masih kecil tinggal di desa yang tentram. Namun mendadak muncul wabah cacar yang ganas. Banyak penduduk, orangtu Zhu Yuanzhang  meninggal dunia. ”Yang selamat hanya Zhu Yuanzhang, hanya, wajahnya tetap bopeng terkena cacar. Bocah ini akhirnya meninggalkan desa dengan perasaan yang sedih. Sampai pada akhirnya ia pergi ke dasa lain menjadi tukang bersih-bersih kelenteng,” kata dia.
Dalam riwayatnya, Zhu Yuanzhang merupakan anak yang cerdas dan pemberani.Setelah dewasa ia dikenal sebagai seorang pendekar yang sakti dan gigih memimpin rakyat melawan kekuasaan penjajah. ”Kemudian Zhu Yuanzhang diangkat menjadi seorang kaisar,” paparnya.
Setelah menjadi kaisar, Zhu Yuanzhang kembali ke kampungnya untuk mencari makam orangtuanya, namun hasilnya nihil. ”Maka, ketika Qing Ming tiba, Zhu Yuanzhang mewajibkan agar semua penduduk berziarah ke makam para leluhurnya dan memberi tanda dengan meletakkan kertas panjang setelah selesai bersembahyang,” tuturnya.
Setelah memerintahkan warganya menjalankan ritual Qing Ming, keesokan harinya dia berjalan di kompleks pemakaman di desanya. Tanpa disangka dia menemukan sebuah makam yang belum ditandai kertas. Ternyata makam itu makam kedua orangtuanya.
Kedua sejarah munculnya tradisi Qing Ming itu menjadi dasar warga Tionghoa tetap melestarikannya. Tujuan tradisi Qing Ming bukan sekadar pada rutinitas berziarah ke makam leluhur saja, namun sugesti dan kecintaan warga Tionghoa dengan leluhurnyalah yang mereka hayati. (***)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :