Tak dipungkiri jajan merupakan kegemaran oleh semua anak-anak. Bahkan akibat kebiasaan seringnya jajan, anak menjadi lupa makan di rumah yang sudah disediakan oleh orangtuanya. Sehingga hal ini cukup mengkhawatirkan kalangan orangtua, karena jajanan yang dikonsumsi oleh anak mereka belum tentu bersih, sehat dan bergizi. Sebab ternyata jajan sangat berpengaruh terhadap angka kecukupan gizi, energi, serta zat-zat lain baik pada anak yang mengalami malnutrisi (stunting), maupun yang normal (nonstunting).
Jajan berarti anak membeli makanan atau minuman yang bukan buatan sendiri. Jajanan yang dikonsumsi oleh anak sangat beragam, mulai jajanan tradisional yang dikemas dengan bungkus seadanya, hingga jajanan modern yang dikemas dengan berbagai bentuk hingga anak menjadi tertarik. Umumnya dengan uang jajan yang diberikan oleh orangtua, anak-anak membelikan jajanan berupa snack (makanan ringan) atau minuman kemasan. Namun yang mengkhawatirkan, sebagian besar penjual jajanan cenderung lebih mengutamakan keuntungan daripada manfaat maupun keamanan makanan (food safety) yang dijualnya.
Menurut Ir Listiyani Hidayati, MKes, peneliti sekaligus dosen Program Studi Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), ragam jajanan anak-anak yang berupa jajanan tradisional bisa berupa kue bolu, kerupuk, getuk, bakpao, tahu goreng, bakso penthol, dan lain-lain. Sementara yang termasuk jajanan modern antara lain jeli, aneka wafer, biskuit, roti, permen, sosis, serta beraneka minuman instan. “Hampir semua anak mengonsumsi jajanan setiap harinya dengan frekuensi kira-kira 2 hingga 7 kali per hari,” ujar Listyani.
Sudah menjadi kelaziman, pertumbuhan anak selalu menjadi perhatian para orangtua. Namun meski begitu, terkadang asupan nutrisi justru tak tepat sasaran. Padahal nutrisi penting untuk tumbuh kembang anak yang optimal. Setiap harinya, anak membutuhkan gizi seimbang yang terdiri dari asupan karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Asupan kandungan nutrisi tersebut dapat diperoleh dari variasi makanan yang dikonsumsi. Konsumsi lemak hingga 30 persen dari total energi dalam sehari diperlukan juga untuk menyerap vitamin-vitamin penting seperti A, D, E dan K secara maksimal.
Listyani menjelaskan, dari hasil penelitiannya dengan mengambil sampel sejumlah anak yang berada di wilayah kerja puskesmas di Kecamatan Pasar Kliwon, Solo menunjukkan kuantitas, jenis, serta frekuensi makanan yang diberikan pada anak memiliki faktor penting yang berkaitan dengan angka kecukupan gizi pada anak. Termasuk juga dalam hal ini jajanan yang sering dikonsumsi anak-anak. “Terdapat perbedaan yang signifikan antara asupan dan kontribusi energi, protein, vitamin B1, B2, B6, vitamin C, mineral Fe (zat besi) dan Zn (zat seng) yang bersumber dari jajanan anak baik yang stunting dan nonstunting,” ujarnya.
Jajanan Modern Diminati
Stunting menunjukkan pertumbuhan yang rendah dan merupakan efek kumulatif dari asupan energi, makronutrien atau mikronutrien yang memadai dalam waktu jangka panjang. Atau bisa juga karena akibat dari infeksi kronis seperti infeksi pernapasan akut, diare, campak, serta malaria, yang berkontribusi terhadap morbiditas (kesakitan) dan kematian. Dari hasil penelitiannya tersebut, imbuh Listiyani, frekuensi jajan pada anak stunted ternyata tidak jauh berbeda dengan anak normal. Demikian pula dengan jenis jajanan yang dikonsumsi, yang membedakan adalah jumlah jajanan yang dikonsumsi.
Selain itu, fakta lain menunjukkan meski jajanan tradisional lebih beragam, namun anak-anak lebih cenderung memilih jajanan modern untuk dikonsumsi. Hampir setiap hari jajanan modern dikonsumsi dengan frekuensi kurang lebih 2 hingga 5 kali. “Jajanan memberikan kontribusi energi dan protein yang cukup berarti pada kelompok anak stunted dan nonstunted yaitu lebih dari 25 persen dari total keseluruhan. Dengan kata lain meskipun anak tidak makan, kebutuhan energi pada anak dapat terpenuhi lewat jajan, ” paparnya.
Menurut Listyani jajanan yang baik untuk anak adalah jajanan yang cara pengolahan dan penyajiannya higienis (bersih). Seperti bakwan misalnya, jika bahan-bahannya yakni wortel, tepung, bumbu, serta minyak untuk menggorengnya masih bagus, makanan ini kaya akan berbagai zat yang penting untuk tubuh. “Biasanya orangtua yang memiliki tingkat pendidikan yang tinggi, akan lebih selektif memilih jajanan untuk anaknya. Contoh gampang adalah dengan melihat tanggal kedaluwarsa makanan yang akan dibeli,” imbuhnya.
Meski demikian, Listyani mengimbau, agar orangtua tetap waspada terhadap jajanan yang dijual di sekitar sekolahan anaknya. Mengingat, mengarahkan anak untuk memilih jajanan sehat tidak gampang. Namun, ini mutlak dilakukan orangtua dan pihak sekolah. Hal ini dapat dimulai dengan mengenalkan jenis zat berbahaya yang biasa ada pada jajanan di sekitar sekolah. (Ikrob Didik Irawan)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




