SOLO—Kepala Seksi Kurikulum Pendidikan Dasar SD dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Dinas pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Surakarta, Hasto Daryanto menyatakan saat ini ada sekitar enam SD Inklusi di Solo. Sekolah tersebut di antaranya SD Al Firdaus, SDN Petoran, SDN Pajang I, SDN Bromantakan, SDN Manahan dan SDN Kartodipuran.
“Idealnya satu guru mendampingi satu siswa tergantung dengan kekhususannya. Misalnya anak autis dan anak buta mesti disendiri-sendirikan,” katanya saat ditemui, Selasa (7/9).
Untuk menyiasati hal tersebut, sekolah sudah semestinya bekerja sama dengan Sekolah Luar Biasa (SLB) atau lembaga-lembaga terapis jika di SD tersebut belum ada. “Di Solo sudah ada sekitar puluhan guru yang telah dapat menangani hal tersebut. Namun sampai sekarang pemetakan anak berkebutuhan khusus dirasa masih kurang pas karena perlu adanya deteksi psikologi yang tepat. Jangan sampai hanya karena anak malas lalu dimasukkan dalam ABK,” tandasnya.
Menurutnya, ada persyaratan yang dipenuhi untuk sekolah Inklusi. Di antaranya adalah ada siswa yang berkebutuhan khusus yang jumlahnya tidak ditentukan karena itu tergantung pada SDM di masing-masing sekolah. Selain itu, harus ada Guru Pembimbing Khusus (GPK), adanya modifikasi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan anak, sarana dan prasarana serta sosialisasi terhadap masyarakat.
Hasto mengatakan keberhasilan anak tidak semata-mata menjadi tanggung jawab sekolah saja namun juga melibatkan peran serta orangtua. ”Perlakukan anak layaknya bunga,” katanya. (fir)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |







