Minggu, 12/02/2012
PT JOGLOSEMAR PRIMA MEDIA | Jalan Setia Budi No. 89 Gilingan, Banjarsari, Surakarta | Telp. 0271-717141, 0271-720496 dan 0271-741926 | Fax. 0271-741696 | website : www.harianjoglosemar.com | email : redaksi@harianjoglosemar.com
<div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div> <div style="background-color: none transparent;"><a href="http://www.rsspump.com/?web_widget/rss_ticker/news_widget" title="News Widget">News Widget</a></div>

Satwa Mati, Hujatan Menanti…

Minggu, 28/02/2010 09:00 WIB - Deniawan Tommy Chandra Wijaya

Buruknya manajemen TSTJ Surakarta, berbuah kecaman untuk tim pengurus satwa TSTJ. Kematian dua ekor satwa secara berturut-turut setahun lalu, langsung menuai kritik dan kecaman untuk tim perawat satwa. Nuraini, misalnya, dokter hewan yang merawat satwa di TSTJ mengaku trauma dengan hujatan yang terus dialamatkan padanya.
Pihaknya mendapat sorotan tajam. Dia merincikan sejumlah satwa yang mati mendadak antara lain, singa betina, macan tutul betina, dan orangutan Sumatra. Rentan waktu kematian satwa-satwa itu tak terpaut lama.
Dia tak tahan dengan kecaman sebagian masyarakat yang menilai satwa-satwa itu mati karena ditelantarkan, terlebih buruknya manajemen sudah tercium luas. ”Ya kesal juga mendengar itu, sebab seolah-olah kami lah penyebab kematian mendadak para satwa tersebut. Padahal kenyataan yang terjadi di lapangan, kematian satwa itu karena faktor serangan virus, dan ada juga yang karena sudah tua,” ucapnya.
Dia menjamin tidak ada satu pun satwa di TSTJ yang ditelantarkan, atau sengaja dibunuh karena gonjang-ganjing yang sedang melanda manajemen TSTJ. Semua satwa, kata dia, telah dirawat dan diawasi sesuai prosedur standar kesehatan hewan. ”Meski saat ini manajemen TSTJ baru bermasalah, tapi bukan berarti kami lantas menyia-nyiakan para satwa. Gizi, kesehatan dan ketersediaan makanan selalu kami perhatikan dan itu bisa kita cek bersama,” timpalnya.
Nuraini meminta agar semua pihak bisa melihat secara objektif permasalahan yang terjadi. Karena pihaknya, juga telah berhasil mencetak prestasi, terbukti dengan kelahiran seekor anak gajah Juni tahun lalu, dan seekor anak rusa Bawean pada awal tahun ini. ”Untuk menangkarkan gajah itu sangat susah. Untuk itulah kebun binatang Gembiraloka Jogja pun sampai studi banding ke sini, ketika anak gajah itu lahir,” akunya.
Kendati demikian, dia tetap mengeluhkan kondisi infrastruktur yang tidak sesuai dengan standardisasi taman satwa. Ia mencontohkan, dari sisi kandang sudah banyak yang rusak dan tidak lagi layak huni. Selain itu sisi SDM-nya juga kurang. Dari ke-16 perawat yang ada, empat orang di antaranya sudah lanjut usia.
”Itu belum ditambah ulah iseng pengunjung yang kadang mengganggu ketenangan satwa. Tapi betapapun berat kondisinya, kami di sini tetap berupaya untuk profesional dalam bekerja,” ujarnya.
Sama dengan pengurus yang lain, dia pun meminta polemik TSTJ segera berakhir dan status pengelolaannya jelas. ”Karena TSTJ harus segera dibenahi terutama dari sisi sarana prasarana,” kata dia.
”Saya dengar ada tembok yang runtuh, dan beberapa kerusakan lainnya. Kalau ini tidak segera diperbaiki maka akan sangat berbahaya bagi keselamatan para satwa itu sendiri,” pungkasnya. (Deniawan Tommy Chandra Wijaya)

berbagi di Facebook :
Share
berbagi di Twitter :
berbagi di Google + :