Andai saja selama menjadi istri ia mendapat sentuhan kasih sayang suami, tentu perempuan yang sudah berusia kepala empat itu mungkin tidak akan berujung di pojok rumah dengan kaki berkalungkan rantai besi.
Tapi apalah daya, waktu, kesempatan dan lembaran hidup seseorang tak bakal terulang. Dan Sarmini (43) akan tetap terpuruk di belakang rumah, pun dengan ingatan yang nyaris telah hilang.
Derita warga Dusun Kedunggupit, Desa Tempurharjo, Kecamatan Eromoko, Wonogiri itu berawal dari buah perkawinannya dengan Sukadi. Meski selama perkawinannya itu ia dikaruniai tiga orang anak, bukannya hidup Sarmini bahagia.
Ia tidak pernah merasakan kasih sayang suami terhadap istri. Bahkan Sarmini sering ditinggal bekerja, namun tak jelas bekerja di mana. Dan kalau pun pulang membawa hasil, Sarmini tak pernah memetik keuntungannya, karena hasil kerja suami hanya habis untuk mabuk-mabukkan dan berjudi.
Setidaknya, seperti itulah pengakuan ayah Sarmini, Kromo Karto (70). Kini nasi telah menjadi bubur. Sarmini mengalami gangguan jiwa sudah selama empat tahun ini. Selama itu, Sarmini pernah lepas dan tak tentu rimbanya. Karena itu, kini kaki Sarmini terpaksa dibelenggu dengan rantai agar tidak pergi ke mana-mana.
“Sebenarnya yang menjodohkan Sarmini dengan Sukadi ya saya sendiri. Keduanya memang belum pernah kenal sebelumnya,” ujarnya.
Semenjak Sarmini mengalami gangguan jiwa, Sukadi tidak pernah menemuinya. Alih-alih mengupayakan kesembuhan sang istri, dia justru menikah lagi. Dua anak Sarmini dibawa serta, sementara si bungsu yang sudah sekolah di Taman Kanak-kanak dirawat adik Sarmini.
“Anak saya itu, punya suami, tapi tidak pernah diurus,” akunya lagi.
Kini, Sarmini “tinggal” di rumah orangtuanya, di sebuah ruangan berdinding bambu terletak di bagian depan rumah. Ia tinggal di ruangan sekitar 2 x 2,5 meter. Di ruang itu hanya ada kain jarik, baju hangat dan botol plastik tempat air minum.
Tak ada tikar atau kasur. Seluruh aktivitas sehari-hari Sarmini dilakukan di atas tanah. Dulu pernah diberi tikar dan kasur, namun Sarmini berteriak-teriak menolaknya. “Semuanya ya dilakukannya di situ saja,” jelas Kromo.
Tak kurang-kurang orangtua Sarmini mengupayakan pengobatan. Bahkan, sapi-sapi sudah ludes terjual demi kesembuhan anaknya. Kaniyem (65), Ibunda Sarmini mengatakan, Sarmini mengalami gangguan jiwa ketika usia kandungan anak bungsunya berusia satu bulan. Selama itu juga, dia sering menggumam sendiri. Ia juga terkadang marah sendirian tanpa sebab.
“Yah, memang sudah nasib, Mas. Mau bagaimana...” tutur Kaniyem dengan tatapan kosong. (Eko Sudarsono)
| berbagi di Facebook : Share |
|
| berbagi di Twitter : Tweet |
berbagi di Google + : |




